Bumi Indonesia banyak melahirkan tokoh penyebar agama Islam. Dari ratusan tokoh yang kurang terdengar itu, satu nama penting layak disebut yakni Syekh Junaidi Al Batawi. Foto: lanudi.id
JAKARTA, (ERAKINI) - Bumi Indonesia banyak melahirkan tokoh penyebar agama Islam. Baik dari namanya yang sudah popular hingga saat ini maupun yang namanya kurang dikenal. Dari ratusan tokoh yang kurang terdengar itu, satu nama penting layak disebut yakni Syekh Junaidi Al Batawi.
Dirangkum dari sejumlah sumber terpercaya, nama Syekh Junaidi Al Batawi tercatat sebagai seorang ulama dan mubalig cukup berpengaruh dalam sejarah di Indonesia.
Uniknya Al Batawi dikenal sebagai tokoh penyebar Islam yang menggunakan metode dakwah unik melalui jalur kesenian. Sebuah metode anti mainstream yang di era hidupnya masih sangat jarang dilakukan ulama dan tokoh agaman dalam pergerakan Islam di Indonesia.
Mengutip buku berjudul Syekh Junaidi Al Batawi: Riwayat Hidup dan Perjuangannya" karya H. Muhammad Yunan Yusuf (2004), terlahir di tanah Betawi, dulu disebut Batawi, Syekh Junaidi Al Batawi adalah seorang ulama dan mubalig kelahiran tahun 1854 di Jakarta dan meninggal pada tahun 1943.
Dalam khasanah penyebaran Islam di Indonesia, Syekh Junaidi popular sebagai salah satu ulama penting dalam perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Seperti tokoh-tokoh penyebar Agama Islam di Indonesia, Syekh Al Batawi memulai perjalanan dakwahnya pada usia relatif muda. Ia belajar agama Islam dari beberapa ulama terkemuka di Jakarta, termasuk Syekh Kholil Bangkalan, seorang ulama khos Nahdlatul Ulama (NU) asal Madura yang banyak menjadi guru banyak ulama kondang NU termasuk sang pendiri KH Hasyim As’yari (Mbah Hasyim).
Setelah menyelesaikan pendidikan, Syekh Al Batawi mulai berdakwah di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Syekh Junaidi menggunakan metode dakwah yang unik, yaitu dengan menggunakkan bahasa dan budaya lokal.
Dalam strategi dakwahnya, Al Batawi banyak menggunakan media seni seperti puisi, lagu, dan cerita untuk menyampaikan ajaran Islam. Dan ternyata metode dakwah ini sangat ampuh dalam menyebarkan dan melakukan ‘pribumisasi’ Islam di kalangan masyarakat lokal.
Kontribusi dalam Pergerakan Islam
Bukan hanya sekadar sebagai tokoh yang menyiarkan Agama Islam, Syekh Al Batawi juga berperan aktif dalam pergerakan Islam di Indonesia.
Jejaknya sebagai aktivis gerakan Islam dilakukannya dengan bergabung di beberapa organisasi Islam, termasuk dua organisasi besar Islam yakni NU dan Muhammadiyah. Bahkan, Syekh Al Batawi juga tercatat menjadi salah satu pendiri Jam'iyatul Washliyah, sebuah organisasi Islam yang berfokus pada pendidikan dan dakwah.
Tak cukup hanya mendapuk dirinya sebagai ulama yang banyak mendakwahkan pesan-pesan moral, jiwa sebagai aktivis juga menjadikan Syekh Al Batawi berperan penting dalam memperjuangkan hak-hak umat Islam di Indonesia. Kepentingan riil di tengah masyarakat menjadi medan perjuangan lain Al Batawi selain sebagai tokoh agama.
Hal ini dilakukan Al Batawi ketika memperjuangkan penggunaan bahasa Arab dalam pendidikan Islam dan memperjuangkan hak-hak umat Islam dalam bidang politik dan ekonomi di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Peran ini dinilai sangat berani mengingat di era itu tidak terlalu banyak ulama atau tokoh agama yang juga bertindak sebagai seorang aktivis yang bergulat dengan isu-isu atau wacana praksis di tengah umat.
Legacy Al Batawi
Kiprah sebagai seorang ulama cum aktivis organisasi menjadikan Syekh Al Batawi meninggalkan warisan yang sangat besar dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia.
Salah satu legacy besar Al Batawi adalah menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam menyebarkan Islam di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Selain warisan dan jejaknya sebagai tokoh Islam berpengaruh di Jakarta dan sekitar era tahun 1800 hingga 1900-an, Syekh Junaidi juga meninggalkan beberapa karya tulis yang sangat berharga, termasuk kitab-kitab tentang ajaran Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.
Karya dan warisan Al Batawi ini masih menjadi salah satu eksiklopedia penyebaran Islam penting yang terus dipelajari oleh para ulama dan peneliti hingga saat ini.