MADINAH, (ERAKINI) - Kisah Perang Uhud menjadi salah satu materi yang disampaikan kepada jemaah haji dan umrah saat mengikuti rangkaian ziarah di Kota Madinah. Melalui kunjungan ke sejumlah situs bersejarah, jemaah tidak hanya diajak mengenal jejak perjuangan Rasulullah SAW, tetapi juga memetik hikmah dari salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Mutowif atau pemandu ibadah di , Ustadz Ibrohim Fadlannul Haq, menjelaskan kawasan Uhud menyimpan banyak lokasi bersejarah yang berkaitan erat dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Menurut mahasiswa Universitas Islam (UIM) itu, salah satu tempat yang dikunjungi adalah Masjid Al-Fash.
Masjid tersebut merupakan tempat Rasulullah SAW melaksanakan salat setelah Perang Uhud sekaligus beristirahat usai peperangan. Di kawasan yang sama juga terdapat sebuah gua yang diyakini menjadi tempat Rasulullah SAW berlindung ketika situasi perang semakin genting.
"Masjid Al-Fash adalah masjid tempat Rasulullah melaksanakan sholat setelah perang Uhud. Beliau istirahat di sana. Kemudian nanti ada gua, tempat beliau bersembunyi," ujar Ustadz Ibrohim kepada Media Center Haji, Minggu (28/6/2026).
Saat berada di kawasan makam para syuhada, Ustadz Ibrohim menjelaskan bahwa lokasi tersebut merupakan tempat berlangsungnya Perang Uhud pada tahun ketiga Hijrah.
"Sekarang kita berada di depan makamnya para Syuhada Uhud. Jadi lokasi ini adalah tempat terjadinya Perang Uhud," katanya.
Ia menjelaskan, Perang Uhud tidak dapat dipisahkan dari kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar yang terjadi setahun sebelumnya.
Kala itu, sekitar 300 pasukan Muslim berhasil mengalahkan sekitar 1.000 pasukan Quraisy.
"Sebab terjadinya Perang Uhud itu sendiri adalah karena sebelumnya terjadi Perang Badar. Perang pertama kali yang dialami oleh Rasulullah SAW. Dan kemenangan di tangan kaum Muslimin," ujarnya.
Kekalahan dalam Perang Badar membuat kaum Quraisy bertekad membalas kekalahan. Pada bulan Syawal tahun ketiga Hijrah, mereka datang ke Madinah dengan membawa sekitar 3.000 pasukan untuk menyerang kaum Muslimin.
Menghadapi ancaman tersebut, Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat. Hasil musyawarah memutuskan agar pasukan Muslim menghadapi Quraisy di luar Kota Madinah. Semula sekitar 1.000 pasukan berangkat menuju medan perang.
Namun, sekitar 300 orang dari golongan munafik memilih kembali ke Madinah karena tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Akibatnya, pasukan kaum Muslimin yang tersisa hanya sekitar 700 orang.
Dalam strategi perang, Rasulullah SAW menempatkan 50 pemanah terbaik di Bukit Pemanah atau Jabal Rumat. Mereka mendapat perintah tegas agar tidak meninggalkan posisi, apa pun yang terjadi, hingga memperoleh instruksi langsung dari Rasulullah SAW.
Pada awal pertempuran, kaum Muslimin berhasil menguasai keadaan. Pasukan Quraisy kocar-kacir dan mulai meninggalkan medan perang. Melihat situasi itu, sebagian pasukan pemanah mengira peperangan telah usai sehingga turun dari bukit untuk mengumpulkan harta rampasan perang.
Padahal, Rasulullah SAW telah berpesan agar mereka tetap bertahan di posisinya. Kesalahan tersebut dimanfaatkan oleh Khalid bin Walid, yang saat itu masih berada di pihak Quraisy, untuk memimpin pasukannya memutari bukit yang telah kosong dan menyerang kaum Muslimin dari arah belakang.
Serangan mendadak itu membuat pasukan Quraisy yang semula mundur kembali ke medan perang sehingga kaum Muslimin terkepung dari dua arah. Keadaan pun berbalik. Kaum Muslim mengalami kekalahan dan Rasulullah SAW turut mengalami luka-luka hingga harus diamankan oleh para sahabat.
Menutup penjelasannya, Ustadz Ibrohim mengajak jamaah menjadikan Perang Uhud sebagai pelajaran tentang pentingnya menaati perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Menurutnya, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pasukan, tetapi juga oleh ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.
Peristiwa Uhud menjadi pengingat bahwa kelalaian terhadap amanah dan instruksi dapat membawa dampak besar, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi setiap Muslim untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai disiplin, kesabaran, dan kepatuhan dalam menjalani kehidupan.