Perang Uhud, Kisah Pertempuran 1.000 Muslim vs 3.000 Kafir Quraisy yang Berakhir Pahit
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Perang Uhud merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada tahun ketiga Hijriah, tepatnya pada bulan Syawal, setelah hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah.
Peristiwa ini dijelaskan dalam berbagai literatur klasik, di antaranya karya Ibnu Katsir berjudul Sirah Nabawiyah li Ibn Katsir serta tulisan Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dalam Fiqih Sirah Nabawiyah.
Perang Uhud dipicu oleh keinginan kaum kafir Quraisy untuk membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar. Kekalahan tersebut menimbulkan dendam mendalam karena banyak tokoh mereka yang tewas, sehingga dianggap menyangkut harga diri.
Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim berjumlah sekitar 1.000 orang di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW. Mereka dilengkapi dua pasukan kavaleri dan sekitar 100 prajurit berbaju besi. Nabi juga menunjuk beberapa panglima, di antaranya Mush’ab bin Umair, Usaid bin Hudhair, dan Hubab bin Munzir.
Sementara itu, pasukan Quraisy berjumlah sekitar 3.000 orang yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Mereka didukung 100 pasukan kavaleri dan 700 prajurit berbaju besi.
Sebelum perang berlangsung, kaum kafir Quraisy melakukan penggalangan dana untuk memperkuat persiapan militer. Upaya ini menghasilkan sekitar 1.000 ekor unta dan 1.500 dinar pada tahap awal, yang kemudian berkembang hingga terkumpul 3.000 unta, 200 pasukan berkuda, serta 700 prajurit berbaju besi setelah persiapan selama satu tahun.
Pasukan berkuda kafir Quraisy dibagi menjadi dua bagian, masing-masing dipimpin oleh Khalid ibn Walid dan Ikrimah ibn Abu Jahal.
Di pihak Muslim, Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat terlebih dahulu bermusyawarah untuk menentukan strategi. Dalam musyawarah tersebut, muncul dua pendapat, yakni bertahan di dalam kota Madinah atau keluar menghadapi musuh.
Mayoritas sahabat memilih untuk keluar dan menghadapi pasukan Quraisy di kawasan Gunung Uhud. Nabi Muhammad SAW akhirnya menyetujui keputusan tersebut, meskipun pada awalnya beliau lebih condong pada strategi bertahan di dalam kota.
Dengan komitmen terhadap hasil musyawarah, Nabi Muhammad SAW kemudian mempersiapkan pasukan secara maksimal untuk menghadapi pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Perang Uhud. Sayangnya, dalam perang ini umat Islam mengalami kekalahan dari kaum kafir Quraisy. Wallahua'lam.
















