Perbedaan Metode Rukyatul Hilal dan Hisab dalam Menentukan 1 Syawal 1445 H
Riduwan
DALAM menentukan perhitungan bulan Hijriah, Islam mengenal 2 metode populer yaitu hisab dan rukyat. Sebab cara penentuan tanggal tersebut berbeda dengan metode penanggalan pada tahun Masehi.
Namun demikian, penggunaan metode hisab dan rukyat sering kali membuat perbedaan pada hari-hari besar Islam di Indonesia, termasuk awal bulan Ramadhan, 1 Syawal hingga Idul Adha.
Lalu apa keduanya berbeda?
Dilansir dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), hisab dilihat dari sisi bahasa berarti "menghitung. Metode ini berpatokan pada hitungan ilmu falak atau ilmu astronomi.
Dengan metode itu hilal (bulan baru) dapat dipastikan dengan perhitungan matematis, astronomis. Bahkan, penentuan awal bulan dan penanggalan tahunan dapat dihitung sejak sekarang.
Hasil dari perhitungan ini nantinya akan digunakan untuk memastikan wujud dari hilal. Dalam kata lain, penetapan awal bulan dengan metode hisab tidak perlu dilakukan dengan melihat hilal secara langsung. Cukup menggunakan perhitungan sistematis.
Dinukil dari kitab Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, karya Ibn Rusyd, dinyatakan bahwa ulama yang menggunakan metode hisab berpandangan bahwa perkembangan ilmu matematika dan astronomi tentang peredaran benda angkasa kian matang, sehingga dapat memperhitungkan kemunculan hilal.


















