Tata Cara dan Bacaan Niat Puasa Syaban Lengkap dengan Arab dan Terjemahnya
Abdul Rahman Ahdori
Umat Islam sedang bergembira mengisi bulan Syaban 1446 H atau bertepatan dengan Februari 2025. Kegembiraan itu dilakukan umat Islam dengan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT termasuk berpuasa.
Berpuasa di bulan Syaban merupakan kegiatan yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, para ulama di Indonesia meminta masyarakat Muslim agar dapat mencontoh Rasulullah.
Dilansir dari NU Online pada Rabu (12/2/2025), Syekh Nawawi al-Bantani di dalam kitab Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadiîn menyebut, keutamaan puasa Sya'ban adalah mendapatkan syafaat Rasulullah SAW tepatnya pada hari akhir. Rasulullah sendiri termasuk orang yang menyukai ibadah puasa Syaban.
Adapun alasan Rasulullah mencintai bulan Syaban karena bulan tersebut merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah yaitu Syaban. Namun, Sya'ban sering dilupakan karena berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan.
Sementara itu, dalam kitab Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadiîn cetakan Dârul Fikr, Bairut halaman 197. Syekh Nawawi al-Bantani menyebutkan puasa sunnah yang keduabelas adalah Puasa Sya’ban, karena kecintaan Rasulullah saw terhadapnya. Karenanya, siapa saja yang puasa, maka ia akan mendapatkan syafaat belau di hari kiamat.
Selain itu, orang yang berpuasa di bulan Sya'ban akan diampuni dosa-dosanya melalui syafaat Rasulullah sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
Berikut tata cara puasa Syaban
Tata Cara Puasa Syaban
Pertama, niat di hati. Niat puasa baik dilakukan dengan niat puasa mutlak, seperti: “Saya niat puasa,” atau dengan cara yang lebih baik sebagaimana berikut:
Dosa-dosa yang Tak Diampuni di Malam Nisfu Sya’ban
نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma sya’bâna lilâhi ta’âlâ.
Artinya, “Saya niat puasa Sya’ban karena Allah ta’âlâ.
Sebagaimana puasa sunnah lainnya, pertama, niat puasa Syaban dapat dilakukan sejak malam hari hingga siang sebelum masuk waktu zawal (saat matahari tergelincir ke barat), dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar atau sejak masuk waktu subuh.
Kedua, makan sahur. Lebih utama makan sahur dilakukan menjelang masuk waktu subuh sebelum imsak. Ketiga, melaksanakan puasa dengan menahan diri dari segala hal yang membatalkan, seperti makan, minum dan semisalnya.
Keempat, lebih menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa seperti berkata kotor, menggunjing orang, dan segala perbuatan dosa. Kelima, segera berbuka puasa saat tiba waktu maghrib.

















