Ilustrasi air sungai pegunungan yang tidak terurus (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Perusahaan air minum dalam kemasan Aqua tengah menjadi sorotan publik setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan inspeksi mendadak ke salah satu pabriknya. Dalam sidak tersebut, Dedi menemukan bahwa air yang diolah dan dikemas tidak berasal dari mata air pegunungan, melainkan dari sumur bor.
Temuan itu menimbulkan kekhawatiran. Dedi menilai, penyedotan air tanah dalam jumlah besar berpotensi merusak keseimbangan alam.
Menanggapi hal itu, pihak Aqua menegaskan bahwa sumber air yang digunakan bukan dari sumur bor biasa, melainkan dari akuifer dalam, yakni lapisan air tanah alami yang terbentuk di sistem hidrogeologi pegunungan.
“Air ini terlindungi secara alami dan telah melalui proses seleksi serta kajian ilmiah oleh para ahli dari UGM dan Unpad. Sebagian titik sumber bahkan bersifat self-flowing atau mengalir secara alami,” ujar pihak Aqua dalam keterangan tertulis yang dikutip Senin (27/10/2025).
Aqua juga menyebut proses pengambilan air dilakukan secara hati-hati dengan pengawasan ilmiah yang ketat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Fenomena seperti ini sejatinya telah diingatkan dalam Al-Qur’an. Allah Swt menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi merupakan akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri. Hal ini dijelaskan dalam Surat Ar-Rum ayat 41:
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Menurut tafsir Kementerian Agama, ayat ini menegaskan bahwa ketika manusia menuhankan hawa nafsu, maka keseimbangan bumi terganggu. Kerusakan yang tampak di darat dan laut, baik di kota maupun di desa, merupakan akibat dari perbuatan manusia yang tidak lagi dikendalikan oleh fitrah dan tuntunan moral.
Allah ingin manusia merasakan sebagian dari akibat buruk perbuatannya agar mereka sadar, bertobat, dan kembali menjaga harmoni dengan alam.
Perusakan alam, menurut tafsir tersebut, bisa muncul dalam berbagai bentuk: eksploitasi sumber daya yang berlebihan, peperangan, hingga percobaan senjata. Semua itu mencerminkan keserakahan dan kealpaan manusia terhadap amanah sebagai khalifah di bumi.
Artinya: “Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini. Tetapi Dia menangguhkan (hukuman)-Nya sampai waktu yang sudah ditentukan...” (QS. Fathir: 45)
Ayat ini menegaskan kasih sayang Allah kepada manusia. Andaikan seluruh akibat dari perusakan alam langsung ditimpakan, niscaya manusia akan binasa. Karena kasih sayang itulah, Allah masih memberi kesempatan agar manusia memperbaiki diri dan menghentikan perilaku merusak lingkungan.
Manusia diciptakan bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga menjaga dan memakmurkannya. Islam memandang bumi sebagai tempat yang suci dan penuh keberkahan. Dalam Al-Qur’an, kata bumi bahkan disebut lebih sering daripada langit atau surga.
Rasulullah SAW bersabda:
جُعِلَتْ لِى اْلَاَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا (رواه أبو داود و ابن ماجة عن أبي هريرة)
“Bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan sebagai alat untuk bersuci.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Hadis ini menegaskan kesucian bumi dan pentingnya menjaga kelestariannya. Alam bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanda kebesaran Allah.
Kasus penyedotan air secara masif, kebakaran hutan, hingga banjir yang disebabkan oleh eksploitasi berlebihan seharusnya menjadi bahan refleksi. Seperti pesan Al-Qur’an, manusia diminta untuk kembali pada jalan yang benar, menjaga bumi, bukan merusaknya.