Dilansir dari artikel berjudul Kisah Ibtihaj Muhammad, Bukti Atlet Wanita Muslim Bisa Berprestasi di Tengah Diskriminasi yang ditulisWahyono, Senin (23/2/2026), pada Olimpiade Rio 2016, Ibtihaj tampil di nomor sabel. Meski tersingkir di babak 16 besar nomor sabel tunggal putri, ia berhasil mempersembahkan medali perunggu di nomor tim sabel putri setelah tim AS mengalahkan Italia dengan skor 45-30.
Prestasi itu semakin mengukuhkan namanya sebagai simbol keberagaman dan inklusivitas dalam dunia olahraga. Sebelumnya, pada 2012, ia dinobatkan sebagai Muslim Sportswoman of the Year.
“Banyak orang tidak percaya bahwa wanita Muslim memiliki suara atau bahwa kami berpartisipasi dalam olahraga,” ujar Ibtihaj dalam wawancara dengan USA Today.
“Dan itu bukan hanya untuk menantang kesalahpahaman di luar komunitas Muslim, tetapi di dalam komunitas Muslim. Saya ingin melanggar norma budaya,” tambahnya.
Tumbuh sebagai Minoritas
Ibtihaj lahir di Maplewood, New Jersey, dan tumbuh di pinggiran Kota New York. Ia berasal dari keluarga Muslim yang menjadi satu-satunya keluarga Muslim di lingkungannya.
Sejak kecil, mengenakan hijab sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan saat duduk di bangku sekolah dasar, ia kerap harus menjelaskan kepada teman-temannya tentang apa itu hijab.
Ia mengakui, menjadi minoritas dan mengenakan hijab di usia muda bukan hal mudah.
“Pada usia itu, Anda ingin menyesuaikan diri,” kata Ibtihaj.
Hijab pula yang justru mengantarkannya menemukan olahraga anggar. Orangtuanya mencari cabang olahraga yang memungkinkan putrinya tetap mengenakan pakaian sesuai keyakinannya. Anggar menjadi pilihan karena seragamnya menutup seluruh tubuh.
“Anggar secara unik mengakomodasi keyakinan agama saya. Jadi, sepertinya ini adalah keputusan yang mudah untuk belajar olahraga,” ujar Ibtihaj.
Ia mulai menekuni anggar pada usia 13 tahun dan bergabung dengan Peter Westbrook Foundation, program yang didirikan oleh juara anggar Peter Westbrook untuk membawa olahraga tersebut ke komunitas kurang mampu di New York.
Hadapi Diskriminasi
Perjalanan Ibtihaj tidak selalu mulus. Saat bergabung dengan tim nasional anggarAmerika Serikat pada 2010, ia mengaku sempat merasa terpinggirkan.
Sebagai perempuan Afrika-Amerika yang mengenakan hijab, ia merasa kurang mendapatkan kepercayaan dan dukungan. Namun, situasi itu justru memotivasinya untuk membuktikan diri.
“Untuk seorang wanita Afrika-Amerika, naik peringkat dan juga memakai hijab, untuk alasan apa pun, tidak pernah diterima dengan baik,” tuturnya.
Ia menambahkan, “Mengapa orang-orang terintimidasi oleh hijab saya atau terintimidasi oleh etnis saya, dan mengapa kita tidak bisa hidup serta punya kesempatan yang sama?”
Ibtihaj memilih menjawab diskriminasi dengan kerja keras. Ia terus berlatih dan menjadikan keimanan sebagai sumber kekuatan. Baginya, pesaing terbesar adalah diri sendiri.
Selama tujuh tahun membela tim nasional AS, Ibtihaj turut membawa timnya meraih emas di Kejuaraan Dunia 2014 dan Pan American Games 2011 serta 2015, serta beberapa medali perunggu di Kejuaraan Dunia.
Jadi Inspirasi Global
Kesuksesannya di Olimpiade 2016 tak hanya berdampak di arena olahraga. Perusahaan mainan Mattel kemudian merilis boneka Barbie berhijab yang terinspirasi dari sosok Ibtihaj. Ia menjadi boneka Barbie pertama dalam sejarah yang mengenakan hijab.
Media Inggris, The Guardian, bahkan menyebutnya sebagai salah satu simbol terbaik Amerika dalam melawan intoleransi.
Belum lama ini, Ibtihaj dipilih sebagai anggota dewan Inisiatif Pemberdayaan Perempuan dan Anak Perempuan melalui Olahraga di Departemen Luar Negeri AS, yang mendorong partisipasi anak perempuan di seluruh dunia untuk mengembangkan potensi mereka melalui olahraga.
Bagi Ibtihaj, anggar bukan sekadar olahraga. Ia melihatnya sebagai jalan menuju kesempatan akademis dan ruang untuk bertanggung jawab atas hasil perjuangan sendiri.
“Saya menyukai gagasan untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil pertandingan atau permainan,” ujarnya.
Lewat ketekunan dan keyakinannya, Ibtihaj Muhammad tidak hanya mengukir sejarah, tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak perempuan Muslim untuk tampil percaya diri di panggung dunia.