TEHERAN, (ERAKINI) - Sikap keras ditunjukkan Mohammad Baqer Qalibaf, negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, yang menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima proses perundingan dengan Amerika Serikat jika dilakukan di bawah ancaman.
Pernyataan tersebut disampaikan Qalibaf melalui unggahan di platform X pada Senin waktu setempat. Ia menilai pendekatan yang digunakan Presiden AS Donald Trump tidak mencerminkan negosiasi yang setara. "Teheran tidak menerima negosiasi dengan AS di bawah ancaman," tegasnya.
Lebih lanjut, Qalibaf juga menyindir strategi Washington dalam proses diplomasi yang sedang berlangsung. Menurutnya, Trump berupaya menggeser makna perundingan menjadi sesuatu yang tidak adil. "Ia berusaha mengubah meja negosiasi menjadi ‘meja penyerahan diri’," tulis Qalibaf.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan nuklir terbaru yang tengah dirundingkan antara Amerika Serikat dan Iran akan jauh lebih unggul dibanding perjanjian internasional tahun 2015 yang dikenal luas sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin waktu setempat melalui media sosialnya, menanggapi kekhawatiran sejumlah politisi Demokrat dan pakar nuklir yang menilai proses negosiasi saat ini berlangsung terlalu tergesa-gesa untuk isu yang sangat kompleks.
"KESEPAKATAN yang sedang kita buat dengan Iran akan JAUH LEBIH BAIK daripada JCPOA, yang biasa disebut sebagai ‘Kesepakatan Nuklir Iran’," tulis Trump dalam unggahannya.
Sebagai pengingat, pada tahun 2018, saat menjabat di periode pertamanya, Trump menarik Amerika Serikat keluar dari JCPOA. Ia kala itu menyebut perjanjian tersebut sebagai kesepakatan yang sangat buruk dan tidak menguntungkan negaranya.
Dalam perkembangan terbaru, ketegangan kawasan meningkat setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran lebih dari tujuh pekan lalu. Menurut Trump, langkah tersebut bertujuan mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.
Dengan masa gencatan senjata yang dikabarkan berlangsung selama dua pekan dan segera berakhir, masa depan perundingan lanjutan antara kedua negara, yang direncanakan berlangsung di Pakistan, masih belum menemukan kejelasan.
Trump menegaskan dirinya tidak berada di bawah tekanan dalam proses ini. "Saya sama sekali tidak berada di bawah tekanan, meskipun, semuanya akan terjadi, relatif cepat!" tambahnya.
Meski demikian, sejumlah pihak mempertanyakan realistisnya target kesepakatan dalam waktu singkat. Sebagai perbandingan, JCPOA yang melibatkan banyak negara besar seperti Prancis, Jerman, Tiongkok, Inggris, dan Rusia membutuhkan waktu sekitar dua tahun perundingan dengan melibatkan ratusan ahli dari berbagai bidang, mulai dari fisika nuklir hingga hukum dan keuangan.