MAKKAH, (ERAKINI) - Menjalani ujian akhir sekolah dari rumah karena sakit mungkin sudah biasa. Namun, berbeda dengan yang dialami Aysylla Naila Sari. Remaja asal Kabupaten Malang itu harus mengerjakan ujian sekolah dari Madinah karena sedang menunaikan ibadah haji.
Aysylla atau yang akrab disapa Ays menjadi jamaah haji termuda asal Kabupaten Malang tahun ini. Ia berangkat ke Tanah Suci pada usia 15 tahun.
Ays mengaku sempat tidak percaya ketika mendapat kabar pada November 2025 lalu bahwa dirinya masuk daftar jamaah haji yang akan berangkat pada musim haji 2026.
Saat itu, ia masih berusia 14 tahun dan mengira tidak memenuhi syarat karena aturan sebelumnya menetapkan usia minimal jamaah haji 17 tahun.
Namun, menjelang keberangkatan, muncul aturan baru dari Kementerian Haji dan Umrah RI yang menetapkan batas usia minimal jamaah haji menjadi 13 tahun. Perubahan aturan itu membuat Ays akhirnya memenuhi syarat untuk berangkat.
Di balik rasa bahagia mendapat kesempatan berhaji di usia muda, Ays juga dihadapkan pada dilema lain. Jadwal keberangkatannya bertepatan dengan masa ujian akhir kelulusan di sekolahnya, MTsN 1 Malang.
Ia pun berkonsultasi dengan kepala sekolah dan wali kelasnya untuk mencari solusi agar tetap bisa mengikuti ujian.
Pihak sekolah kemudian memberikan kebijakan khusus dengan memajukan jadwal ujian Ays. Meski demikian, ia tetap harus mengerjakan ujian dari Arab Saudi karena telah berangkat ke Tanah Suci pada 25 April 2026.
Ays tergabung dalam kloter SUB 16 bersama kakaknya. Sementara jadwal kepulangannya ke Indonesia baru pada 6 Juni 2026, hanya berselang tiga hari sebelum agenda wisuda sekolah.
“Jadi mengerjakan ujiannya di Madinah,” kata Ays kepada tim Media Center Haji 2026 di Marjan Alsalam Hostel, Makkah, Rabu (6/5/2026).
Perjalanan hajinya pun tidak sepenuhnya berjalan mulus. Dalam perjalanan menuju Arab Saudi, pesawat yang ditumpanginya sempat tertahan di Bandara Kualanamu, Medan.
Akibat kendala tersebut, masa tinggal rombongannya di Madinah berkurang dan hanya berlangsung sekitar sepekan.
Waktu singkat itu dimanfaatkan Ays untuk fokus menjalani ujian sekolah. Ia mengikuti ujian menggunakan telepon genggam melalui aplikasi computer based test (CBT).
“Ujiannya pakai HP, pakai aplikasi CBT,” ujar anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut.
Selama lima hari berturut-turut, Ays menjalani ujian untuk 12 mata pelajaran. Seluruh soal dikerjakannya secara daring menggunakan ponsel.
“Alhamdulillah lancar semua,” ucapnya.
Meski demikian, masih ada ujian praktik olahraga dan seni yang belum diselesaikannya karena membutuhkan rekaman video kegiatan.
Di tengah kesibukan belajar dan ujian, Ays tetap memanfaatkan waktunya untuk beribadah di Madinah. Dia sempat berziarah ke Masjid Nabawi dan melaksanakan ibadah di Raudhah setelah mendaftar melalui aplikasi Nusuk.