Ilustrasi - Asap mengepul selama serangan udara di pusat Khartoum ketika tentara Sudan menyerang posisi yang dikuasai oleh Pasukan Pendukung Cepat (RSF) paramiliter di seluruh ibu kota Sudan pada 26 September 2024. (Foto: AFP).
KHARTOUM, (ERAKINI) - Sedikitnya 28 orang dilaporkan tewas setelah serangan pesawat tanpa awak menghantam sebuah pasar yang dipadati warga di Sudan bagian tengah. Informasi ini disampaikan oleh kelompok pemantau hak asasi manusia pada Senin (16/2/2026) waktu setempat, di tengah eskalasi pertempuran sengit antara militer Sudan dan kelompok paramiliter rivalnya.
Serangan mematikan tersebut terjadi di kawasan yang berada di bawah kendali Pasukan Pendukung Cepat (RSF), tepatnya di wilayah utara Kordofan. Daerah ini kini menjadi salah satu titik pertempuran paling panas dalam konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun antara angkatan bersenjata Sudan dan RSF.
Kelompok pemantau independen Emergency Lawyers melaporkan bahwa beberapa drone menyerang Pasar Al-Safiya yang terletak di pinggiran Kota Sodari, Kordofan Utara, pada Minggu. Saat serangan terjadi, pasar dalam kondisi ramai oleh aktivitas warga.
“Serangan berlangsung ketika lokasi dipenuhi masyarakat sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lanjut usia,” ungkap kelompok tersebut. Mereka menegaskan bahwa angka korban masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Sodari sendiri merupakan kota terpencil yang menjadi simpul jalur perdagangan gurun. Letaknya sekitar 230 kilometer barat laut El-Obeid, ibu kota Negara Bagian Kordofan Utara. Kota ini telah berbulan-bulan menjadi sasaran upaya pengepungan oleh RSF.
Wilayah Kordofan belakangan mengalami lonjakan serangandrone yang mematikan, seiring perebutan jalur strategis timur-barat Sudan. Koridor ini menghubungkan wilayah Darfur di barat, yang sebagian besar dikuasai RSF, melewati El-Obeid, hingga ibu kota Khartoum yang berada di bawah kendali militer.
Di wilayah luas dan terpencil tersebut, serangan udara dari kedua kubu kerap menghantam kota maupun desa kecil, dengan korban sipil mencapai puluhan orang dalam satu waktu. Pada Rabu pekan lalu, dua anak dilaporkan tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang menghantam sebuah sekolah. Insiden terpisah juga menyebabkan kerusakan parah pada gudang milik Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyimpan bantuan pangan bagi warga terdampak kelaparan.
Setelah memperkuat pengaruhnya di Darfur tahun lalu, RSF bergerak ke arah timur menuju Kordofan, wilayah yang kaya akan sumber daya minyak dan emas, dalam upaya menguasai jalur tengah Sudan yang sangat strategis.
Sejak pecahnya perang pada April 2023, konflik antara militer Sudan dan RSF telah merenggut puluhan ribu jiwa serta memaksa sekitar 11 juta orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Krisis ini kini disebut-sebut sebagai salah satu bencana kemanusiaan dan pengungsian terbesar di dunia.
Konflik berkepanjangan tersebut secara de facto membelah Sudan menjadi dua kekuasaan: militer mengendalikan wilayah tengah, utara, dan timur, sedangkan RSF menguasai sebagian besar wilayah barat serta sejumlah area di selatan bersama kelompok sekutunya.