Ahli Sebut Rehabilitasi Pasien Pengguna Tangan dan Kaki Palsu Masih Hadapi Tantangan
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Ketersediaan tangan dan kaki palsu belum cukup untuk memastikan pasien yang kehilangan anggota gerak dapat kembali beraktivitas secara optimal.
Akses terhadap layanan prostetik berkualitas, pendampingan tenaga profesional, serta penyesuaian alat sesuai kebutuhan pasien masih menjadi tantangan dalam proses rehabilitasi.
Ahli Prostetik dan Ortotis Össur Asia Tenggara, Zulfaqar Omar, mengatakan, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada kesesuaian prostesis dengan kondisi fisik, lingkungan, dan aktivitas sehari-hari pasien.
“Menurut saya, salah satu tantangan terbesar adalah akses terhadap layanan prostetik yang berkualitas dan berkesinambungan,” ujar Zulfaqar dalam kuliah tamu Clinical Prospective in Upper and Lower Limb Prosthesis Rehabilitation di Ruang Kuliah Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta, Senin (12/10/2026).
Dia mencontohkan, kebutuhan pengguna prostesis di Indonesia sangat beragam. Sebagian pasien harus mengendarai sepeda motor untuk bekerja, berjalan di permukaan jalan yang tidak rata, hingga naik turun tangga setiap hari.
Menurut Zulfaqar, kondisi tersebut membuat pemilihan prostesis harus mempertimbangkan lingkungan dan gaya hidup pasien, bukan hanya aspek teknis alat. Faktor kenyamanan, keamanan, stabilitas, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari juga perlu menjadi pertimbangan.
Selain kesesuaian alat, biaya dan keterbatasan akses terhadap tenaga profesional terlatih turut memengaruhi keberlanjutan layanan. Pasien membutuhkan pendampingan untuk mempelajari cara menggunakan prostesis, sekaligus pemeriksaan dan penyesuaian alat secara berkala.
“Jadi, menurut saya, tantangan utamanya bukan hanya bagaimana menyediakan teknologi prostetik, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasien dan dapat digunakan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari,” kata Zulfaqar.
Pandangan senada disampaikan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Dr. dr. Rizky Kusuma Wardhani, Sp.KFR, Subsp.Ped.(K). Dokter Rizky menilai, rehabilitasi prostetik membutuhkan pendekatan menyeluruh yang menghubungkan perkembangan teknologi dengan kebutuhan fungsional pasien.
Karena itu, asesmen pasien, pemilihan prostesis, program latihan, dan evaluasi berkala perlu dilakukan sebagai satu rangkaian pelayanan.
Kolaborasi antara dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, tenaga prostetik dan ortotik, serta profesi kesehatan lainnya juga diperlukan untuk memastikan penanganan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
“Teknologi canggih saja tidak menjamin keberhasilan rehabilitasi. Hasil yang optimal memerlukan asesmen pasien yang tepat, pemilihan prostesis yang cermat, program rehabilitasi yang dipersonalisasi, serta kolaborasi yang efektif di antara para tenaga kesehatan,” ujar Rizky.
Diketahui, kuliah tamu tersebut diselenggarakan oleh Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FKUI dengan dukungan Össur dan ASATIF.
Melalui kegiatan itu, Ahmad Risaldi dari ASATIF juga berharap pembelajaran mengenai perkembangan teknologi prostetik dapat memberikan manfaat bagi tenaga medis maupun pasien.
“Kami percaya pembelajaran tentang teknologi terbaru di bidang kaki dan tangan palsu akan bermanfaat tidak hanya bagi dokter Sp.KFR, tetapi juga bagi pasien-pasien mereka,” ujarnya.
Össur merupakan perusahaan global yang mengembangkan produk prostetik dan ortotik untuk mendukung kebutuhan rehabilitasi pasien. Selain prostesis anggota gerak, perusahaan tersebut memiliki portofolio produk ortotik, baik khusus maupun siap pakai, seperti penyangga lutut, tulang belakang, dan pergelangan kaki.
Di Indonesia, produk Össur antara lain tersedia melalui PT Ortho Pro Arthayasa yang berlokasi di Hermina Tower, Kemayoran, Jakarta.


















