Poltekkes Jakarta I Gandeng Ossur dan ASATIF Perkenalkan Teknologi Direct Socket
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Poltekkes Kemenkes Jakarta I menggandeng PT Asa Solusi Aktif (ASATIF) dan perusahaan teknologi global Össur, menggelar kuliah umum bertajuk “Direct Socket Transtibial Prosthesis: From Assessment to Definitive Socket” di Jakarta pada Kamis (8/10/2026).
Kegiatan ini memperkenalkan teknologi inovatif dalam pembuatan kaki palsu (prostesis) yang langsung dikerjakan pada tungkai sisa pengguna.
Acara ini menghadirkan demonstrasi langsung dan pembahasan kasus klinis oleh Ahli Prostetik & Ortotis Össur Asia Tenggara, Zulfaqar Omar, guna memperkaya wawasan mahasiswa Ortotik Prostetik dan menjembatani pembelajaran teori dengan praktik di lapangan.
Direktur Utama ASATIF, Ahmad Risaldi, menekankan pentingnya transfer pengetahuan berkelanjutan agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja. Kolaborasi ini juga melibatkan para alumni Poltekkes Kemenkes Jakarta I yang kini berkarier di industri ortotik prostetik.
Ia berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut. “Supaya informasi, teknologi, skill yang Össur punya bisa ditransformasikan sedikit-sedikit kepada mahasiswa,” tambahnya.
"Saya berharap program ini dapat menghadirkan rangkaian topik bermanfaat bagi calon tenaga profesional dan pasien ke depannya," lanjut pria yang akrab disapa Andi ini.
Dari sisi inovasi, Zulfaqar Omar memperkenalkan keunggulan metode Direct Socket dibanding teknologi lain seperti 3D printing yang butuh waktu 8 hingga 12 jam untuk pemindaian, modifikasi komputer, dan pencetakan.
Sebaliknya, Direct Socket dikerjakan secara langsung (on hand) saat pasien hadir.
“Pembuatan satu socket dengan metode tradisional membutuhkan waktu sekitar dua minggu, sedangkan dengan Direct Socket bisa dilakukan dalam satu jam,” jelas Zulfaqar.
Kehadiran teknologi ini di Indonesia memberikan angin segar bagi pasien yang sebelumnya harus pergi ke luar negeri seperti Malaysia atau Singapura. Össur bahkan melihat Indonesia sebagai salah satu pasar potensial utama dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, meski telah teruji secara klinis, tantangan terbesar penerapan teknologi ini di Indonesia bukanlah pada kualitas produk, melainkan proses adaptasi tenaga medis senior (Certified Prosthetist Orthotist / CPO) yang telah terbiasa menggunakan metode konvensional selama puluhan tahun.
Karena itu, mengubah pola pikir (mindset) para klinisi agar terbuka terhadap teknologi baru menjadi kunci utama demi menghadirkan pelayanan yang lebih cepat dan efisien bagi pasien di Indonesia.
Wakil Direktur I Poltekkes Kemenkes Jakarta I, Tri Riana Lestari, mengungkapkan pentingnya penguatan kompetensi mahasiswa dalam pemenuhan alat kesehatan bagi penyandang disabilitas.
Kegiatan ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi mahasiswa, khususnya di Jurusan Ortotik Prostetik.
"Melalui kuliah umum dan demonstrasi langsung, mahasiswa tidak hanya memperkaya wawasan teoretis dari ruang kelas, tetapi juga memahami proses secara utuh mulai dari asesmen pasien, teknik pembuatan produk, hingga aplikasinya di lapangan," ujarnya.
Dia mengungkapkan bahwa mahasiswa Jurusan Ortotik Prostetik dibekali dengan kompetensi yang komprehensif untuk mampu memproduksi sekaligus memasang alat bantu secara mandiri.


















