Pelayanan Jemaah Lansia, PPIH Siapkan Skema Badal Lontar Jumrah
Akhmad Baihaqi Arsyad
MAKKAH (ERAKINI) – Untuk antisipasi dan demi kelancaran ibadah para jemaah haji Indonesia, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) siapkan skenario badal Lontar Jumrah. Terutama untuk jemaah haji lansia dan jemaah yang secara fisik tidak memungkinkan. Hal itu dilakukan siapkan skenario agar jemaah yang mayoritas lansia ini bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus gugur kewajiban hajinya.
“Kita sedang siapkan skenario agar jemaah yang mayoritas lansia ini bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus gugur kewajiban hajinya. Sebab, di Fikih banyak alternatif. Sehingga, mereka yang tidak mampu bisa dibadalkan lontar jumrahnya.” terang Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas di Arafah sebelum berangkat ke Muzdalifah, Selasa (27/6/2023).
Dia menjelaskan, setelah menyelesaikan prosesi wukuf di Arafah, jemaah haji melanjutkannya dengan mabit (menginap) di Muzdalifah dan Mina. Selama di Mina, jemaah akan melontar Jumrah Aqabah pada 10 Zulhijjah, dilanjutkan jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari-hari Tasyrik.
Baca juga: Menteri Agama Komitmen Tingkatkan Layanan Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia
Sampai selesai wukuf, lanjutnya, dilaporkan ada tujuh jemaah wafat di Arafah. “Jika di Mina tidak dipersiapkan dengan betul, kejadian yang sama akan terulang, banyak jemaah yang tumbang, termasuk lansia. Kita tidak berharap," jelas Gus Men, sapaan akrabnya.
Gus Men menekankan agar para jemaah yang benar-benar mungkin saja yang boleh lontar jumrah sendiri dan boleh tawaf ifadah sendiri. “Lainnya, jemaah yang secara fisik tidak memungkinkan, saya minta lontar jumrahnya dibadalkan," tegasnya.
Gus Men meminta PPIH untuk segera mengidentifikasi jemaah yang harus dibadalkan. Gus Men juga minta petugas untuk siap membadalkan jemaah. "Saya kira kita memiliki petugas yang cukup untuk bisa membadalkan jemaah," ujarnya.
Menag menegaskan bahwa badal lempar jumrah itu sah secara Fikih dan tidak dipungut biaya. Sehingga, jemaah tidak perlu khawatir. “Bahkan jemaah yang wafat dibadalhajikan oleh petugas, tanpa dipungut biaya. Demikian juga jemaah yang sakit dan tidak memungkinkan disafariwukufkan, juga dibadalhajikan, dan tidak dipungut biaya," lanjutnya.
Gus Men menjelaskan praktik baik dilakukan tim konsultan dan bimbingan ibadah yang tergabung dalam safari wukuf. Menurutnya, ada lebih 200 jemaah yang disafariwukufkan. “Mereka semuanya akan dibadalkan lontar jumrahnya, baik lontar jumrah aqabah maupun lontar jumrah pada hari-hari Tasyrik.” jelasnya.
















