"Lomba joget seperti itu sangat disukai segmen pemilih muda yang semakin meningkat jumlahnya. Ini cara cerdas mendongkrak elektabilitas Prabowo-Gibran," kata Toto, di Kabupaten Purwakarta, Jabar, Minggu (26/11/2023).
Cara tersebut, menurut Toto. bukan hanya meredam suhu panas politik nasional tapi juga dapat mendongkrak elektabilitasPrabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka semakin moncer. Apalagi, ada pesan moral yang sangat kuat tentang politik riang gembira dengan tidak mengumbar cacian, hinaan dan fitnah. Inilah, kata dia, juga yang membedakan Prabowo hari ini dengan Prabowo pada Pilpres 2019 lalu.
“Seperti yang terpotret di survei LSI Denny JA, Prabowo hari ini memiliki 2 keunggulan personal, yaitu sosok yang dipersepsi strong leader, tapi sekaligus figur yang mulai kuat aspek humanisnya," kata Toto.
Sementara itu, sedikitnya 500 peserta mengikuti lomba joget 'bapak gemoy' yang diinisiasi politisi Partai Gerindra Dedi Mulyadi, di Lembur Pakuan Kabupaten Subang, Jabar Sabtu (25/11/2023) malam.
Dedi Mulyadi mengatakan bahwa lomba tersebut membawa kebahagiaan bagi seluruh rakyat. Pertama, iringan hujan membawa kebahagiaan bagi para petani yang bisa kembali beraktifitas bersawah menghasilkan beras, telur hingga daging untuk melahirkan generasi gemoy.
Dedi menyebut, saat ini masyarakat tengah gandrung dengan istilah gemoy yang mencitrakan pada sosok Prabowo Subianto. "Saat ini bapak gemoy adalah bapak yang paling digemari di Indonesia," ucapnya.
Ia menambahkan, kebahagiaan kedua adalah bagi para ibu-ibu yang sibuk mengurusi rumah tangga hingga ekonomi keluarga. Meski begitu kaum ibu tetap menanggapi riang gembira dengan berjoget.
"Ocehan dan nyinyiran itu bagaikan vitamin dan nutrisi. Sehingga hidup bahagia bilamana menerima ocehan dan nyinyiran dengan lapang dada dan riang gembira," ujar Dedi.
Dedi mengusung politik gemoy yang merupakan politik riang gembira dalam menghadapi tahun politik ini. Baginya, tak masalah 'gemoy' dicaci karena hal tersebut tidak akan dihiraukan. Sebab, jika hal tersebut ditanggapi malah akan mereka yang benci dan mencaci akan senang. Sebaliknya jika dihiraukan akan membuat para pencaci merana.
"Narasi gemoy itu dibangun oleh publik yang disematkan pada Pak Prabowo dan diterima sebagai kebahagiaan dalam bentuk aktivitas joget yang lahir dari gerakan silat dan tradisi di keluarganya," kata Dedi Mulyadi. (ant)