Joni Ande Kala (19), pelajar asal Kabupaten Tapal Bata, Belu, NTT, yang pernah viral setelah memanjat tiang bendera saat upacara 17 Agustus 2018, kembali menjadi sorotan setelah gagal mengikuti tes masuk TNI. Foto: Ist
BATAM, (ERAKINI) - Joni Ande Kala (19), pelajar asal Kabupaten Tapal Bata, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang pernah viral setelah memanjat tiang bendera saat upacara 17 Agustus 2018, kembali menjadi sorotan setelah gagal mengikuti tes masuk TNI. Meskipun mendapat lampu hijau dari Presiden Jokowi, bukan jaminan Joni bakal berseragam .
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjutak menegaskan bahwa Joni tetap wajib menjalani tes kelayakan untuk menjadi anggota TNI.
“Masih harus mengikuti seleksi untuk menjadi anggota TNI,” tegas Maruli di Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau, dikutip dari Antara Kamis (8/8/2024).
Maruli menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek penting yang harus dipenuhi untuk diterima sebagai tentara, yaitu psikotes, mental ideologi, dan kesehatan. Jika ketiga poin tersebut terpenuhi dengan baik, Joni akan menjadi prioritas untuk diterima sebagai anggota TNI.
Setiap tes yang dilakukan sangat penting untuk menghasilkan tentara berkualitas yang mampu menjalankan tugas di berbagai situasi. Tes kesehatan dan psikotes bertujuan untuk mengecek kemampuan calon anggota TNI dalam mengendalikan diri, salah satunya stres.
“Jadi mampu enggak dia (Joni) untuk mengikuti itu. Psikotesnya, mampu enggak nanti. Kalau tentara kan harus bisa mengendalikan stres. Nanti pas lagi tugas di hutan kan memiliki stres, mampu tidak dia mengatasi, jangan sampai alami gangguan mental sendiri,” ujarnya.
“Ceritanya Joni melaksanakan sesuatu yang sangat heroiklah, sudah dipuji, sampai Presiden yang muji. Jadi, kami sekarang ikutkan dia lanjut seleksi, nanti ada proses lanjutan,” Sebut Maruli.
Sebelumnya, dalam video yang beredar Joni mengungkit janji yang pernah diucapkan Presiden Jokowi pada 2018, dimana ia bisa langsung diterima jadi TNI.
Tahun ini ia pun mengikuti tes untuk masuk TNI, namun gagal. Dia berharap bantuan dari Presiden hingga Panglima TNI agar dirinya diterima masuk tes TNI.
"Saya mohon bantuan kepada Bapak Presiden, Bapak Panglima dan juga jajarannya. Mohon bantuan meluluskan saya menjadi anggota TNI. Sekian dan terima kasih," pungkasnya.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Kristomei Sianturi sebelumnya membenarkan Joni sudah mengikuti tes untuk masuk TNI lewat calon bintara prajurit karier (Caba PK) tahun 2024. Menurut dia, Joni tidak memenuhi syarat karena tinggi badannya tidak mencapai minimal 160 cm.