Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei. Ki Hajar Dewantara yang dijuluki Bapak Pendidikan Nasional, memegang peran penting dalam peringatan Hardiknas ini. Foto: Erakini/Sosilo
Perjuangan Ki Hajar Dewantara untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia tidak akan terlupakan. Berawal dari cinta pada pendidikan, ia bersedia mengorbankan segalanya untuk melanjutkan misi tersebut. Sebagai seorang Pahlawan Nasional, Ki Hajar Dewantara memperjuangkan kesetaraan dan kesempatan pendidikan bagi warga pribumi di masa penjajahan Kolonial Belanda.
Dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (2/5/2025), kisah perjuangannya dimulai sejak masa muda. Lahir dari keluarga bangsawan di Pakualaman Yogyakarta dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, ia bahkan mencoba mengejar pendidikan kedokteran meskipun akhirnya tidak selesai karena masalah kesehatan.
Selanjutnya, ia terlibat dalam dunia jurnalistik dan politik, menjadi bagian dari organisasi Boedi Oetomo dan bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij, partai pertama di Indonesia.
Namun, karena kritiknya terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Pulau Bangka. Namun, pengasingan tersebut tidak meredam semangatnya. Setelah kembali ke Tanah Air, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara dan mendirikan sekolah Taman Siswa sebagai sekolah formal pertama bagi penduduk pribumi.
1. Cinta Pada Pendidikan Ki Hajar Dewantara memiliki semangat cinta pada pendidikan yang diwujudkan melalui pengabdian dan pengorbanan untuk kemajuan bangsa. Maksud dari cinta tentu bukan suka biasa. Namun, Bapak Pendidikan Nasional ini memberikan semangat cinta kepada pendidikan dengan rela berkorban dan mengabdi untuk pendidikan Indonesia.
Tekadnya murni, belajar sungguh-sungguh bagi diri kemudian berbakti untuk memajukan peradaban bangsa lewat pendidikan.
2. Hidup Sederhana, Bercita-cita Luar Biasa
Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, Ki Hajar Dewantara tetap hidup sederhana dan memiliki cita-cita luar biasa untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
Semangat Ki Hajar Dewantara yang satu ini memiliki makna yang mendalam. Bagaimana tidak, lahir dari keluarga bangsawan Keraton Yogyakarta, tidak membuat Bapak Pendidikan Nasional yang memiliki arti nama pendidik yang tak tertandingi ini tidak terlena dengan fasilitas serta kemewahan yang ada.
Justru sebaliknya, hak istimewa yang ada, digunakan Ki Hajar Dewantara untuk belajar dan menghasilkan ide cemerlang dalam bidang pendidikan masa kemerdekaan.
3. Gigih Membela Keadilan Ki Hajar Dewantara gigih memperjuangkan keadilan, terutama dalam konteks pendidikan, meskipun harus menghadapi penindasan penjajah.
Ketidakadilan masa penjajahan Kolonial Belanda membuat Ki Hajar Dewantara membangun kekuatan melalui organisasi dengan bergabung ke organisasi Boedi Oetomo. Perlawanannya tentu lewat dunia pendidikan.
Ki Hajar Dewantara yang mendapat hak istimewa diperbolehkan belajar dari keluarga bangsawan, tetap berjuang untuk keadilan bersama kaum pemuda pribumi agar bisa melawan penindasan penjajah.
4. Memanfaatkan Kesulitan untuk Kemajuan
Pengasingan ke Belanda tidak menghentikan semangatnya, malah ia memanfaatkannya untuk memperluas wawasan dan memperdalam konsep pendidikan.
Ki Hajar Dewantara saat diasingkan ke Belanda karena menulis kritik mengenai Pemerintahan Kolonial Belanda, justru memanfaatkan kesempitan kondisi untuk keluasan pendidikan bangsa. Ia jutru mematangkan konsep pendidikannya di pengasingan.
Kembalinya ke Tanah Air pada September 1919, Ki Hajar Dewantara makin semangat merealisasikan cita-cita tingginya untuk membangun fasilitas pendidikan dalam rangka kemerdekaan Indonesia.
Bersama teman tiga serangkainya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, pada tahun 1922 berdirilah sebuah perguruan bercorak nasional yang diberi nama Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa atau yang sering dikenal Sekolah Taman Siswa.
5. Sosok Guru Teladan Ki Hajar Dewantara tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga memberikan teladan melalui semboyan "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," yang menekankan pentingnya menjadi contoh yang baik, memberikan semangat, dan memberikan bimbingan yang baik dalam pendidikan.
Ing Ngarso Sung Tulodo memiliki arti seorang pendidik harus menjadi contoh dan panutan yang baik. Semangat ini dikenalkan Ki Hajar Dewantara untuk sama-sama mengingatkan agar senantiasa memberikan teladan baik untuk orang-orang di sekitar. Bukan hanya siswa, tetapi juga adik, teman, dan keluarga yang kita sayangi.
Sedangkan Ing Madya Mangun Karso artinya, seorang pendidik ada kalanya harus berada di tengah memberikan semangat dan ide kepada muridnya. Dalam konteks luas, pendidik bukan hanya seorang guru, tetapi juga kakak, orang tua, dan pembimbing.
Kemudian semboyan Tut Wuri Handayani memiliki makna seorang pendidik harus mampu berada di belakang untuk memberikan dorongan, tuntunan terus-menerus serta pengarahan yang baik. Ketiga semboyan ini menjadi pegangan kuat bagi perkembangan pendidikan di Indonesia hingga kini.