Ilustrasi - BMKG menyebut bahwa Angin Monsun Australia menguat sehingga fenomena ini berkontribusi terhadap meluasnya cakupan wilayah Indonesia yang mulai mengalami musim kemarau. (Foto: Pixabay).
JAKARTA (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa angin monsun Australia diperkirakan mengalami penguatan dalam sepekan mendatang. Meski intensitasnya masih dalam batas normal, fenomena ini berkontribusi terhadap meluasnya cakupan wilayah yang mulai mengalami musim .
Sebagaimana dilansir dari laman resminya pada Minggu (20/7/2025), BMKG dalam analisis terkini mencatat bahwa hingga dasarian pertama Juli 2025, sekitar 39 persen Zona Musim (ZOM) di wilayah Indonesia telah memasuki fase kemarau. Beberapa daerah yang tercatat telah memasuki musim kering antara lain sebagian besar wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Lampung bagian utara juga mulai menunjukkan tanda-tanda serupa.
Di wilayah selatan Indonesia, kondisi ini tampak di sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tak ketinggalan, beberapa bagian kecil dari Bali, NTB, dan NTT juga menunjukkan transisi serupa. Selain itu, tanda awal musimkemarau juga teramati di sebagian wilayah Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua.
Namun, walaupun kemarau telah mulai berlangsung di sejumlah lokasi, intensitas hujan tinggi masih tetap terjadi di beberapa titik. Berdasarkan data observasi serta sistem peringatan dini BMKG, hujan dengan curah ekstrem tercatat pada 15 dan 16 Juli 2025 di Fakfak, Papua Barat, dengan masing-masing intensitas mencapai 334,4 mm dan 206,5 mm per hari. Kondisi serupa juga terjadi di Gorontalo (95,4 mm), Poso di Sulawesi Tengah (85,5 mm), dan DKI Jakarta (80 mm) pada 16 Juli. Untuk sepekan ke depan, potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih cukup tinggi, terutama di Sumatera Selatan, Jawa bagian barat, serta sebagian besar wilayah tengah dan timur Indonesia. Kondisi ini disebabkan oleh dinamika atmosfer yang masih aktif dan mendukung pembentukan cuaca ekstrem.
Salah satu pemicu utama meningkatnya intensitas hujan adalah aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang kini berada pada fase 5 dan berpusat di wilayah Kepulauan Maritim Indonesia. Fenomena ini mendorong terbentuknya awan-awan konvektif yang menjadi pemicu hujan di wilayah barat Indonesia. Selain MJO, sejumlah gelombang atmosfer ekuatorial seperti Rossby Ekuatorial, Low Frequency Wave, Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) juga diperkirakan aktif dalam beberapa hari mendatang. Aktivitas gabungan dari gelombang ini turut memperbesar peluang pembentukan sistem hujan di berbagai wilayah.
Di sisi lain, munculnya dua bibit siklon tropis yakni 90S di barat Samudra Hindia dan 96W di wilayah laut Filipina, juga berdampak terhadap pola cuaca Indonesia. Kedua sistem ini menimbulkan perputaran angin yang dapat memperkuat konveksi, sehingga meningkatkan intensitas dan durasi hujan. Di saat yang sama, indeks labilitas atmosfer yang tinggi turut memperbesar potensi munculnya sistem cuaca yang signifikan.
Kondisi atmosfer yang aktif tersebut menyebabkan potensi terjadinya cuaca ekstrem tetap tinggi di beberapa wilayah. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap siaga terhadap kemungkinan terjadinya hujan lebat disertai petir dan angin kencang, serta potensi gelombang tinggi di sejumlah kawasan perairan Indonesia. Peringatan ini terutama penting bagi daerah yang masih rawan bencana hidrometeorologi, meskipun sebagian besar wilayah secara klimatologis telah memasuki musimkemarau.
BMKG memperkirakan bahwa curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di banyak wilayah selama satu minggu ke depan. Daerah yang berisiko terdampak antara lain Aceh, Sumatera bagian selatan, kawasan barat Jawa, serta wilayah tengah dan timur Indonesia. Aktivitas berbagai gelombang ekuatorial masih menjadi faktor utama yang memperkuat curah hujan di wilayah ini.
Secara lebih rinci, gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di area perairan barat Aceh hingga Sumatera Barat, selatan Lampung, serta wilayah barat Banten dan DKI Jakarta. Sementara gelombang Kelvin diproyeksikan melintasi Samudra Hindia menuju Sumatera bagian tengah, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Utara. Gelombang MRG juga diperkirakan tetap aktif di wilayah Papua Barat.
Selain gelombang atmosfer, sistem siklon tropis 90S dan 96W yang masih berkembang turut memengaruhi pola angin di wilayah Papua Barat, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Utara. Terpantau pula adanya konfluensi atau perlambatan angin di kawasan utara Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan yang mengarah ke Laut Cina Selatan. Pola ini semakin memperkuat potensi cuaca ekstrem di tingkat regional.
Peningkatan kelembapan udara serta tingginya indeks ketidakstabilan atmosfer (labilitas) juga menjadi pemicu pembentukan awan hujan skala lokal di beberapa daerah. Wilayah yang berpotensi terdampak mencakup Kalimantan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan sebagian besar wilayah Papua.
BMKG juga mengingatkan adanya peningkatan kecepatan angin permukaan yang dapat melampaui 25 knot di sejumlah wilayah perairan. Ini termasuk Laut Cina Selatan, perairan barat Aceh, Samudra Hindia barat Sumatera dan selatan NTT, Laut Timor, Laut Arafuru, serta Samudra Pasifik utara Papua. Keadaan ini berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut secara signifikan.
Dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang masih aktif dan kompleks, masyarakat diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kilat/petir, angin kencang, serta gelombang tinggi. Peningkatan kesiapsiagaan menjadi hal krusial dalam menghadapi dinamika cuaca dalam beberapa hari ke depan.