Cerita Gus Ulil: Istilah Halaqah Muncul saat Gus Dur Menjadi Ketua Umum PBNU
Akhmad Baihaqi Arsyad
LAMONGAN, (ERAKINI) - Salah satu momentum penting di dalam sejarah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dan sejarah kitab kuning di lingkungan NU adalah ketika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU untuk kedua kalinya. Hal itu disampaikan oleh Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) H Ulil Abshar Abdalla saat menjadi Keynote Speech pada Halaqah Ulama Nasional di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Rabu (12/7/2023).
“Hasil muktamar NU ke 28 di Krapyak tahun 1989, setelah Gus Dur terpilih Ketua Umum PBNU kedua beliau menggagas suatu ide yang pengaruhnya bisa kita rasakan sampai sekarang ini. Gagasan itu adalah mengadakan halaqah,” paparnya Gus Ulil sapaan akrabnya.
Adapun tema pada Halaqah Ulama Nasional di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur itu adalah Menyambut Peradaban Baru, Menguatkan Pesantren dan Revitalisasi Kitab Kuning kerjasama antara RMI-PBNU dengan Kemenag.
Kemudian, Gus Ulil menceritakan, waktu itu diadakan halaqah yang disebut rekontekstualisasi kitab kuning, di mana ada tiga orang yang diberikan tugas untuk mengawasi dan menyelenggarakan halaqah, salah satu tokoh pentingnya adalah KH Masdar Farid Mas'udi.
“Beliau punya kontribusi besar di dalam diskusi-diskusi rekontekstualisasi kita kuning, beliau yang diberikan tugas oleh Gus Dur untuk menyelenggarakan halaqah-halaqah itu. Halaqah rekontekstualisasi kitab kuning ini ketika itu diadakan di pondok pesantren seluruh Jawa. salah satu kiai yang terlibat aktif dalam halaqah ini adalah KH Sahal Mahfudz dan KH Mustofa Bisri,” jelasnya.
Halaqah kitab kuning waktu itu, lanjut Gus Ulil, mengungkapkan bahwa hal tersebut mempunyai dampak luar biasa, yaitu berhasil mendorong para kiai untuk membaca kembali kitab kuning dengan cara pandang yang baru.
“Halaqah ini diadakan selama beberapa serial dan hasilnya sangat historis dan monumental adalah munculnya perumusan baru metode istinbat di lingkungan yang dirumuskan dalam Munas Lampung tahun 1992, Munas Lampung itu Munas yang bersejarah, itu adalah peristiwa penting untuk para kiai, terutama kia yang aktif di bahtsul masail,” papar .


















