Ilustrasi - BMKG mengimbau masyaratak waspada banjir, genangan, hingga tanah longsor. Peringatan dini potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan dikeluarkan. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah daerah dilanda hujan sangat lebat dengan curah mencapai lebih dari 100 mm per hari, yang berpotensi menimbulkan banjir, , hingga .
Berdasarkan laporan BMKG, hujan intens terjadi di berbagai daerah seperti Gowa, Sulawesi Selatan (161,4 mm/hari), Malang, Jawa Timur (145,6 mm/hari), Bima, Nusa Tenggara Barat (128 mm/hari), Tasikmalaya, Jawa Barat (114 mm/hari), Banyumas, Jawa Tengah (101 mm/hari), dan Makassar, Sulawesi Selatan (104,4 mm/hari).
BMKG menyebut, beragam faktor atmosfer, baik dari skala global, regional, maupun lokal, menjadi pemicu utama meningkatnya aktivitas cuaca ekstrem di tanah air.
BMKG menjelaskan bahwa sejumlah sistem atmosfer berskala besar tengah aktif memengaruhi pola cuaca di Indonesia. Salah satunya adalah Siklon Tropis FUNG-WONG yang berada di Samudra Pasifik barat Filipina, bergerak menuju Laut Cina Selatan. Meski tidak langsung melintas di atas Indonesia, sistem ini menimbulkan efek tidak langsung, seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah timur dan utara Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Papua Barat Daya.
Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby ekuatorial juga terdeteksi meningkat. Kedua fenomena ini mendorong pembentukan awan konvektif yang dapat memicu hujan deras di berbagai wilayah, antara lain Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Laut Banda, Laut Flores, dan Maluku.
Kombinasi keduanya dengan fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO) yang aktif di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, hingga NTB, membuat atmosfer Indonesia semakin labil dan rawan pembentukan badai lokal.
Dari sisi regional, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Lampung hingga barat daya Banten juga terpantau stabil selama sepekan ke depan. Sistem ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang pesisir barat Sumatera, wilayah selatan Sumatera, dan Jawa bagian barat.
Tak hanya itu, aliran massa udara dingin dari daratan Asia juga mulai masuk ke Indonesia, menyebabkan suhu udara terasa lebih lembap dan meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
BMKG mencatat pula nilai Dipole Mode Index (DMI) yang kini berada di angka -1.94, menandakan suhu muka laut di Samudra Hindia bagian timur lebih hangat dari biasanya. Kondisi ini memperbesar pasokan uap air dari laut ke atmosfer Indonesia bagian barat, memperkuat potensi hujan lebat di wilayah tersebut. Sementara fenomena La Niña lemah di Samudra Pasifik ikut menambah cadangan uap air menuju wilayah Indonesia tengah dan timur.
Sepekan ke depan, cuaca ekstrem berpotensi terjadi di sejumlah wilayah berikut:
- Sumatera bagian barat dan selatan
- Jawa bagian barat hingga timur
- Bali,
- Nusa Tenggara Barat
- Nusa Tenggara Timur
- Kalimantan Utara
- Kalimantan Timur
- Sulawesi Utara,
- Maluku Utara, dan
- Papua bagian barat daya
BMKG juga memperingatkan adanya gelombang tinggi di Laut Sulawesi, perairan utara Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta Samudra Pasifik utara Papua.
Melihat kondisi atmosfer yang dinamis dan tidak stabil, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan genangan air, tanah longsor, angin kencang, serta petir dan gelombang tinggi di laut.