Haul Gus Dur Angkat Soal Etika Demokrasi, Sindir Pihak Merasa Paling Demokratis
Abdul Rahman Ahdori






Ketua Panitia yang juga putri bungsu Gus Dur Inayah Wahid mengatakan, tema ini ingin menegaskan bahwa budaya demokrasi Indonesia memiliki etika sebagaimana gagasan Gus Dur. Hal itu sungguh berbeda dengan kondisi demokrasi saat ini, yang seringkali ditafsirkan semaunya oleh masyarakat. Bahkan, kerap melupakan etika.
“Maknanya bahwa demokrasi itu seringkali kemudian ditafsirkan seenak-enaknya. Aku aja gitu, atau ga ada etika, terserah yang penting menang-menangan gitu. Atau bahkan malah kemudian karena menganggap dirinya mayoritas gitu, terus jadi merasa saya bisa ngapain aja gitu,” katanya kepada wartawan di Ciganjur, Jakarta Selatan, Minggu (3/12/2023).
Inayah yang juga pengurus Lesbumi PBNU ini menilai, sikap paling merasa mayoritas lalu berbuat semaunya, tidaklah dibenarkan. Dulu, Gus Dur bersama tokoh bangsa lain bersusah payah mendorong nafas demokrasi, etika demokrasi, budaya demokrasi yang sehat, yang mengedepankan nilai-nilai keadilan.
Melalui Haul Gus Dur 2023, pihaknya ingin memperkenalkan soal etika demokrasi kepada generasi muda, terutama gagasan ketum PBNU tiga periode, 1984-1999 tersebut. Inayah menegaskan bahwa pihaknya ingin mengajak generasi milenial untuk memahami prinsip demokrasi yang baik dan benar.
“Iya, tema itu kami rasa cocok dengan situasi hari ini gitu, dimana demokrasi kemudian banyak diartikan seperti itu, seperti ya yang penting menang-menangnya aku, kan aku dilindungi oleh demokrasi, hakku kan dilindungi oleh demokrasi, hakku untuk bersuara sebesar-besarnya, hakku untuk melakukan apapun gitu. Sementara etika yang dilakukan oleh Gus Dur itu berbeda,” tuturnya.
Inayah menjelaskan, demokrasi yang dipahami Gus Dur yaitu menyadari adanya hak orang lain. Karena itu, sebagai warga negara yang baik harus bisa membatasi apa yang menjadi keinginan pribadi. Jangan sampai, karena keinginan terhadap sesuatu lalu melakukan segala cara agar hal tersebut tercapai, meskipun melanggar.
“Demokrasi kita malah karena ada haknya orang lain, jadi hak kita ini perlu di rem loh. Kesadaran untuk mengerem itu karena ada haknya orang lain gitu, juga kemudian misalnya etika seperti ini,” ujarnya.
“Rules gitu atau misalnya kondisi politik hari ini, dimana peraturan-peraturan di apa-apakan seenaknya misalnya gitu ya, untuk perebutan kekuasaan. Bahwa demokrasi itu sebenarnya kan bagaimana kita meletakan kekuasaannya paling besar di masyarakat gitu, di rakyat. Kali ini malah kebalik, saat ini yang kita lihat itu banyak banget malah para elit-elit yang kemudian sibuk berebutan kekuasaan gitu. Bukan lagi malah supaya kekuasa itu ada di tangan rakyat sepenuhnya. Tapi membuat seakan-akan ini rakyat kok yang milih. Tapi apakah benar seperti itu, nah ini yang kita mau purpose dengan apa yang dilakukan oleh Gus Dur gitu, dengan etikanya tadi itu,” pungkasnya.

