Boyong Pejabat Eselon I hingga Kepala Badan ke Acara Wisuda, Mendes Yandri Ajak Lulusan UIN Banten Kolaborasi Bangun Desa
Abdul Rahman Ahdori
SERANG, (ERAKINI) -

SERANG, (ERAKINI) -
Sejumlah pejabat yang turut hadir di antaranya Sekretaris Jenderal Kementerian Desa dan PDT Taufik Madjid, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Samsul Widodo, serta Kepala Badan Pengembangan dan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal (BPSDM) Kementerian Desa dan PDT Agustomi Masik.
Selain itu, sejumlah direktur, kepala pusat, dan kepala biro di lingkungan Kementerian Desa dan PDT juga turut hadir dalam kegiatan yang digelar di Aula Convention Hall Kampus UIN Banten, Curug, Kota Serang, Sabtu (8/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Yandri menyampaikan orasi ilmiah di hadapan sekitar 750 wisudawan dan wisudawati. Di antara poin orasi ilmiah yaitu mengajak seluruh lulusan UIN Banten berkolaborasi membangun desa hingga menciptakan lapangan kerja.
"Biasanya saya bawa satu-dua orang. Tapi hari ini full team, Pak Sekjen, Pak Taufik Madjid, Pak Dirjen Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Pak Samsul Widodo, Kepala Badan SDM Pak Agustomi, beserta para direktur, kepala pusat, kepala biro yang mohon maaf tidak saya sebutkan satu per satu," ujar Yandri.
Yandri mengajak para wisudawan melihat desa sebagai ruang yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Dia pun menceritakan perjalanan hidupnya yang berasal dari desa tertinggal di Bengkulu. Yandri mengatakan dirinya lahir dan besar di Desa Palak Siring, Bengkulu. Menurut dia, listrik baru masuk ke desanya pada 2000, sedangkan jaringan telekomunikasi baru tersedia sekitar 2015.
"Saya SD jarang pakai sepatu. Sekolah SMP menyeberang sungai. Pernah menjadi marbot masjid dan sekolah jurusan peternakan," cerita Yandri.
Menurut Yandri, latar belakang seseorang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan. Yandri menegaskan, siapa pun memiliki kesempatan untuk menjadi apa pun selama bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan.
"Artinya, ini saya ingin memulai bahwa apa pun asal kita, dari mana pun asal kita, asal kita sungguh-sungguh, kita bisa menjadi apa pun di negeri yang sangat kita cintai ini," ujarnya.
Yandri kemudian memberikan contoh perjalanan hidupnya kepada para wisudawan. "Apa mungkin marbot masjid jadi menteri? Bisa, ini contohnya. Apa mungkin orang desa tertinggal jadi menteri, jadi anggota DPR? Bisa, ini contohnya. Jadi dalam menjalani hidup dan kehidupan tergantung kita," tuturnya.
Tak lupa, Yandri juga mengajak para wisudawan, khususnya yang berasal dari Banten dan sekitarnya, untuk ikut berkontribusi membangun desa. Menurut Yandri, para lulusan perguruan tinggi tidak harus selalu berorientasi untuk mencari pekerjaan. Menurut Yandri, para lulusan juga memiliki peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di desa.
"Tadi kata Pak Rektor, Prof Ishom, sejatinya kita tidak mesti melulu mencari pekerjaan. Kita bisa menciptakan lapangan kerja dan bisa mengajak orang lain untuk bekerja dengan kita," kata Yandri.
Dia menilai gagasan tersebut dapat diterapkan di berbagai desa di Banten yang jumlahnya mencapai lebih dari 1.200 desa. Yandri menjelaskan, Indonesia memiliki 75.266 desa. Dengan jumlah tersebut, pemerintah tidak mungkin hanya mengandalkan Menteri Desa untuk mendatangi seluruh desa satu per satu.
"Jumlah desa di Indonesia 75.266 desa. Jadi kalau Menteri Desa setiap hari keliling desa, perlu waktu 206 tahun. Tidak cukup," ujarnya.
Karena itu, kata Yandri, pembangunan desa membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan para generasi muda.
Masih Ada Hampir 10.000 Desa Tertinggal
Yandri menyebut kondisi desa di Indonesia sangat beragam. Sebagian desa telah berstatus mandiri, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan perhatian pemerintah.
Dia menyebut terdapat lebih dari 20.000 desa mandiri, sekitar 23.000 desa maju, dan sekitar 21.000 desa berkembang.
Di sisi lain, masih terdapat desa tertinggal dan sangat tertinggal yang jumlahnya hampir mencapai 10.000 desa.
"Masih ada desa tertinggal dan sangat tertinggal hampir 10.000 desa," kata Yandri.
Menurut suami Bupati Serang Ratu Zakiyah itu, kondisi tersebut menjadi tantangan pembangunan yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Terlebih, Indonesia akan memperingati 81 tahun kemerdekaan pada Agustus 2026. Namun, masih terdapat masyarakat di sejumlah wilayah yang belum menikmati pembangunan secara merata.
"Beberapa hari lagi Indonesia akan memperingati 81 tahun Indonesia merdeka, tapi masih ada saudara-saudara kita, terutama di Papua," ujar Yandri.




