Zastrow al-Ngatawi (kedua dari kanan) saat mendampingi istrinya yang juga Menteri PPPA Arifah Fauzi (pertama dari kanan) ketika bertemu Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar (Foto: LTN PBNU)
JAKARTA, (ERAKINI) - PresidenPrabowo Subianto resmi melantik Arifah Fauzi sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) RI pada Senin (21/10/2024). Perempuan yang lahir pada 28 Juli 1969 ini dikenal sebagai aktivis perempuan yang menjabat sekretaris di Pengurus Pusat Muslimat NU.
Sosok Arifah Fauzi sebenarnya tidak asing di kalangan NU, dia adalah istri dari tokoh NU Zastrow Al-Ngatawi. Budayawan sekaligus cendekiawan Muslim yang sempat menempuh pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini adalah eks ajudan pribadi Presiden RI ke-5 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 2000-2001.
Di NU, pria yang biasa disapa Zastrow ini sempat menjabat sebagai Ketua Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) NU periode 2004-2009. Sosoknya mudah diingat karena punya ciri khas yaitu selalu mengenakan blangkon.
Zastrow juga sering muncul di televisi atau menjadi pembawa acara dalam berbagai kegiatan seni dan keagamaan, terutama di lingkungan NU. Zastrow lahir di Pati, 27 Agustus 1966.
Zastrow tumbuh di sebuah kampung santri yang kental dengan tradisi NU. Pendidikan dasarnya ia tempuh di madrasah, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah di kampung halamannya. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sejak usia 8 tahun, Zastrow sudah menjalani hidup mandiri tanpa orang tua. Ia bertahan hidup dengan melakukan berbagai pekerjaan kecil agar bisa tetap belajar di lingkungan pesantren.
“Kalau ada orang ngliwet, saya yang masak. Kalau ada orang cuci baju, saya yang bantu cuci. Asal bisa ikut orang ngaji dan hidup di komunitas pondok, saya terima saja. Saya pernah ikut orang menimba air, apa saja yang bisa saya kerjakan,” katanya seperti dikutip dari NU Online, Selasa (22/10/2024).
Saat kuliah, ia bahkan bekerja sebagai penjual koran, penjaga toko, hingga mengamen untuk mencukupi kebutuhannya. “Saya menikmati apa yang saya jalani. Bagi saya, makan seadanya seperti tiwul atau bubur tetap terasa enak karena mengenyangkan. Yang penting bisa hidup dan belajar,” ujarnya.
Menurut Zastrow, penderitaan hidup hanya terasa jika seseorang memiliki keinginan di luar kemampuan.
“Kalau duit cuma cukup buat mie, kenapa harus memaksakan makan sate? Yang penting itu menikmati apa yang ada. Saya jual koran, saya ngamen, semua saya nikmati. Dibilang pahit, itu cuma bayangan orang lain,” ucapnya.
Mengembangkan Seni sebagai Media Dakwah
Meski tumbuh dalam lingkungan pesantren yang sempat mengharamkan seni, Zastrow tidak pernah berhenti mengembangkan bakatnya. Ia mengaku sering dihukum karena kecintaannya pada musik.
“Saya sering digunduli dan disuruh nguras comberan gara-gara suka nonton musik. Tapi bagi saya itu proses yang biasa. Sejak kuliah, saya mulai tampil di panggung, jadi pelawak, dan mendalami musik,” kenangnya.
Bakat seni Zastrow berasal dari ibunya, yang juga memiliki ketertarikan pada seni tetapi terbatas oleh norma sosial saat itu. “Ibu saya suka menyanyi dan sering mendongeng sebelum tidur dengan gaya teatrikal. Itu membentuk imajinasi seni saya,” tuturnya.
Untuk mewujudkan minatnya, Zastrow mendirikan kelompok musik Ki Ageng Ganjur bersama rekan-rekannya di Yogyakarta. Kelompok ini masih aktif hingga sekarang dan dikenal dengan aransemen musik yang unik, menggabungkan berbagai elemen budaya.
“Kami sering mengaransemen sholawat dengan gaya Santrimantra ala Hindu atau memasukkan syair sufi dalam harmoni Gregorian. Kadang, aransemen Gregorian kami padukan dengan musik Timur Tengah, dan ternyata masyarakat menyukainya,” jelas Zastrow.
Kelompok Ki Ageng Ganjur sering menggelar konser di berbagai daerah seperti Jawa, Bali, dan Sumatra, dengan penonton yang bisa mencapai puluhan ribu orang. “Jumlah penontonnya kadang setara dengan konser Peterpan atau Dewa 19,” ujarnya dengan bangga.
Selain berkiprah di bidang seni, Zastrow juga dikenal sebagai aktivis. Ia sempat menjadi asisten pribadi Gus Dur, Presiden ke-4 Indonesia, setelah terlibat dalam advokasi masyarakat terkait kasus Waduk Kedung Ombo.
Zastrow menceritakan bahwa saat itu ia merasa menjadi target penguasa dan mencari perlindungan ke berbagai pihak hingga akhirnya bertemu dengan Gus Dur.
“Gus Dur melindungi saya dan memberikan ruang untuk berdialog. Dari beliau, saya belajar menata pikiran dan memahami realitas,” kata Zastrow.
Bagi Zastrow, seni dan agama tak bisa dipisahkan. Ia melihat musik sebagai bagian dari dakwah untuk menyebarkan pesan humanis dan agamis. Dengan perjalanan hidupnya yang penuh warna, Zastrow telah membuktikan bahwa keterbatasan lingkungan tidak menghalangi seseorang untuk berkarya dan mengabdi kepada masyarakat.