Ketua umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat memberikan sambutan dalam kegiatan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (13/8/2026). (Foto: PBNU)
BANJARBARU, (ERAKINI) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengingatkan bahwa kurikulum dan pola pengasuhan menjadi kunci dalam upaya mewujudkan yang bagi santri.
Hal itu disampaikan Gus Yahya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (13/8/2026).
Menurut Gus Yahya, pesantren memiliki tanggung jawab besar karena menerima amanah dari orang tua untuk mendidik anak-anak mereka tidak hanya dalam aspek intelektual, tetapi juga spiritual dan moral.
“Kegiatan yang kita adakan pada hari ini, yang kita beri judul Pesantrenku Aman, sebetulnya di dalamnya ada kandungan yang jauh lebih luas dari judulnya itu sendiri. Pesantrenaman itu artinya pesantren yang sungguh-sungguh aman bagi anak-anak,” ujar Gus Yahya di hadapan ratusan santri dan pengasuh pesantren.
Mantan Jubir Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid itu menjelaskan bahwa tradisi pendidikan pesantren yang diwariskan para ulama merupakan sistem pendidikan yang lengkap karena mencakup pembinaan jasmani, akal, dan rohani.
Pesantren tidak hanya membentuk tubuh yang sehat dan akal yang cerdas melalui berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga membina spiritualitas santri agar senantiasa dekat dengan Allah SWT.
“Dalam tradisi pesantren, yang dibangun selain jasad dan akal adalah juga roh kita. Sehingga kita dididik untuk bisa menemukan jalan terus mendekat kepada Sang Khaliq,” katanya.
Di tengah perkembangan zaman, Gus Yahya menilai pesantren juga harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan pendidikan modern. Selain mempelajari Al-Qur’an dan kitab-kitab keislaman, santri perlu menguasai ilmu pengetahuan umum seperti matematika, fisika, dan biologi agar mampu menghadapi tantangan dunia yang terus berubah.
Karena itu, pengelola pesantren dituntut memikirkan berbagai aspek pengembangan lembaga, mulai dari kurikulum, metode pendidikan, sistem pengasuhan, hingga tata kelola infrastruktur.
“Ini merupakan satu hal yang memerlukan pertimbangan dan pemikiran yang mendalam dari para pengelola pondok pesantren. Dan jelas ini bukan tugas yang ringan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya mengajak pesantren-pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama untuk memperkuat kerja sama dan saling berbagi pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan.
Menurut putra KH Cholil Bisri ini, beban besar yang dihadapi pesantren tidak seharusnya dipikul sendiri-sendiri.
“Nahdlatul Ulama ingin mengajak pesantren-pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini untuk bekerja sama satu sama lain, untuk saling menyapa, saling bertukar pengalaman, dan saling mengisi di tengah-tengah kebutuhan yang kita rasakan bersama,” tuturnya.
Gus Yahya menyebut PBNU melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) akan terus mendampingi pesantren dalam mengembangkan sistem pendidikan dan pengasuhan yang lebih baik.
Gus Yahya memandang bahwa keberhasilan mewujudkan pesantren yang aman hanya dapat dicapai apabila ada kemauan dari masing-masing pesantren untuk berkonsultasi dan bekerja sama.
“Beban seberat apa pun akan menjadi lebih ringan apabila kita pikul bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya menegaskan bahwa pesantren memikul amanah besar dari para wali santri yang mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada kiai dan pengelola pesantren selama 24 jam.
Dia mengutip firman Allah SWT, “Quu anfusakum wa ahlikum naara” yang berarti peliharalah diri dan keluarga dari api neraka.
Menurutnya, tanggung jawab tersebut pada dasarnya berada di tangan orang tua. Namun ketika anak diserahkan ke pesantren, maka amanah itu turut menjadi tanggung jawab pesantren.
“Maka tanggung jawab besar ini harus bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Amanah dari para wali santri yang begitu mempercayai dan penuh harap kepada kiai dan pesantren ini harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya,” ucapnya.