3 Mantan Rais Aam PBNU yang Namanya Masih Populer hingga Kini
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 25-31 Agustus 2026.
Salah satu agenda utama dalam forum musyawarah tertinggi NU tersebut adalah memilih Rais Aam PBNU untuk masa khidmat 2026-2031.
Rais Aam merupakan salah satu posisi tertinggi dalam struktur kepemimpinan NU. Jabatan ini memiliki peran strategis dalam menentukan arah nilai keagamaan dan kebangsaan organisasi serta menjadi rujukan bagi warga NU di berbagai daerah.
Sejak berdiri pada 1926, NU telah memiliki sejumlah Rais Aam. Saat ini, posisi tersebut dijabat oleh KH Miftachul Akhyar.
Para Rais Aam umumnya dikenal sebagai ulama yang memiliki pengaruh besar, baik dalam bidang keagamaan, pendidikan maupun kehidupan kebangsaan. Tidak sedikit di antaranya yang namanya tetap dikenal hingga kini.
Berikut tiga mantan Rais Aam PBNU yang kiprahnya masih dikenang.
1. KH Hasyim Asy'ari (1926-1947)
KH M Hasyim Asy'ari merupakan ulama besar asal Jombang, Jawa Timur, sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau menjabat sebagai Rais Akbar NU sejak organisasi tersebut didirikan pada 1926 hingga 1947.
Mbah Hasyim lahir pada 14 Februari 1871 dan wafat pada 21 Juli 1947 dalam usia 76 tahun. Pada 1899, KH Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang.
Pesantren tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di Indonesia dan melahirkan banyak ulama.
Selain aktif dalam pendidikan dan dakwah, KH Hasyim Asy'ari juga memiliki peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


















