Juventus akan kembali beraksi setelah jeda internasional dengan laga panas Serie A Italia menghadapi Inter Milan di Allianz Stadium, Sabtu (13/9/2025) malam pukul 23.00 WIB. Foto: Dok Juventus.com
JAKARTA, (ERAKINI) - Juventus akan kembali beraksi setelah jeda internasional dengan laga panas Serie A Italia menghadapi Inter Milan di Allianz Stadium, Sabtu (13/9/2025) malam pukul 23.00 WIB. Laga pekan ketiga ini menjadi salah satu sorotan utama di awal musim Serie A.
, pertemuan Bianconeri dan Inter di tiga pekan awal Serie A tercatat baru terjadi untuk ketiga kalinya dalam sejarah. Laga ini sarat gengsi karena menjadi ajang pembuktian bagi dua pelatih anyar yang notabene mantan pemain, yakni Igor Tudor di kubu Juventus dan Christian Chivu di Inter Milan.
Laga ini juga menghadirkan nuansa sejarah tersendiri. Untuk pertama kalinya dalam 51 tahun, dua pelatih asing akan saling berhadapan di bench Juventus dan Inter. Terakhir kali momen serupa terjadi pada 1974, ketika Juventus dilatih Cestmir Vycpalek asal Cekoslowakia dan Inter ditangani maestro asal Argentina, Helenio Herrera.
Juventus yang tampil impresif di awal musim, mengalahkan Genoa 1-0 dan Parma 2-0, berpeluang mencatat tiga laga nirbobol beruntun di awal musim, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Bianconeri tampil superior di kandang sepanjang 2025 dengan sembilan kemenangan dari 10 laga Serie A. Hanya Real Madrid yang memiliki catatan kemenangan lebih baik di lima liga top Eropa pada tahun kalender ini.
Sementara itu, Inter justru datang dengan hasil kurang konsisten. Setelah menang telak 5-0 atas Torino di laga perdana, Nerazzurri tumbang di tangan Udinese 1-2. Jika kembali kalah di Turin, Inter akan menelan dua kekalahan dalam tiga laga pertama musim ini—rekor negatif yang terakhir kali mereka alami pada 2011/12.
Rekor Pertemuan
Sejak musim 1929/30, Juventus dan Inter sudah 184 kali bentrok di Serie A. Juventus unggul dengan 88 kemenangan, 47 imbang, dan 49 kemenangan bagi Inter. Di Turin, Inter hanya 11 kali menang di lapangan, plus satu kemenangan walk-out pada 1983 akibat insiden penyerangan bus tim.
Rekor pertemuan jelas menunjukkan dominasi Juventus atas Inter di Serie A. Bahkan, dari seluruh kekalahan Inter di liga, 13% di antaranya datang dari tangan Bianconeri, menjadikan Juventus sebagai lawan yang paling sering menjatuhkan Nerazzurri.
Dalam enam pertemuan terakhir di Serie A, Inter juga hanya mampu meraih satu kemenangan, sementara tiga kali harus kalah dan dua kali berbagi angka. Catatan itu semakin diperburuk dengan statistik di Turin, di mana Juventus begitu sulit ditaklukkan.
Dari 12 laga kandang terakhir melawan Inter, Si Nyonya Tua tak terkalahkan di 11 di antaranya, dengan delapan kemenangan dan tiga hasil imbang. Pertahanan Juventus juga tampil kokoh setiap kali menjamu Nerazzurri. Mereka mencatat nirbobol dalam tujuh dari 10 laga kandang terakhir di liga, dengan agregat gol 13-4.
Bahkan sembilan gol terakhir Juventus ke gawang Inter di Serie A semuanya lahir dari permainan terbuka di dalam kotak penalti. Sebaliknya, lima dari 10 gol terakhir Inter melawan Juventus datang dari situasi bola mati, empat di antaranya lewat eksekusi penalti.
Statistik Inter
Meski kalah dari Udinese, Inter tetap mencatat statistik mengesankan. Dalam dua laga awal musim, mereka melepaskan 27 tembakan dari dalam kotak penalti—terbanyak bersama AC Milan. Dari sisi produktivitas, Inter adalah tim dengan gol terbanyak di tahun kalender 2025, yakni 40 gol.
Distribusi gol mereka juga menarik, dengan lima pemain berbeda sudah mencatatkan nama di papan skor dalam dua laga pertama, menyamai rekor Cremonese. Marcus Thuram tetap menjadi ujung tombak utama. Sejak musim lalu, striker Prancis itu sudah lima kali mencetak lebih dari satu gol dalam satu pertandingan, tertinggi di Serie A bersama Mateo Retegui.
Jejak Historis di Turin
Laga di Turin selalu menghadirkan cerita tersendiri bagi Nerazzurri. Dilansir laman resmi klub, kemenangan pertama Inter di Turin yang begitu bersejarah terjadi pada 1930, ketika tim besutan Arpad Weisz memastikan Scudetto perdana di era liga satu grup lewat kemenangan 2-1 berkat gol Visentin dan legenda muda Giuseppe Meazza.
Dua dekade kemudian, lahir lagi kisah emas, yakni pada 1948 Amedeo Amadei mencetak gol jarak jauh spektakuler, disusul kemenangan 0-2 pada 1951 lewat brace dari Nyers. Era 1960-an menandai masa kejayaan La Grande Inter. Tahun 1961, Hitchens, Suarez, dan Bettini membawa Inter menang 4-2.
Dua tahun kemudian, Sandro Mazzola mencetak gol penting yang memastikan Scudetto kedelapan. Pada 1965, giliran Suarez dan Gori yang memastikan kemenangan 2-0 menuju gelar kesembilan. Setelah lama menunggu, pada 1993 Inter kembali berjaya di Turin di bawah Osvaldo Bagnoli, berkat gol Sosa dan Shalimov— kemenangan pertama setelah 28 tahun puasa. Masuk era 2000-an, Julio “El Jardinero” Cruz menjelma jadi mimpi buruk Juventus dengan tujuh gol, termasuk tendangan bebas indah pada 2003 (3-1) dan sundulan penentu 0-1 di 2005.
Salah satu kemenangan paling bersejarah datang pada 3 November 2012, ketika Juventus Stadium akhirnya merasakan kekalahan pertama. Inter membalikkan keadaan lewat dua gol Milito dan satu dari Palacio, setelah sebelumnya Arturo Vidal membawa Juve unggul cepat (3-1).
Setelah hampir satu dekade, April 2022 kembali menjadi saksi sejarah. Inter mengakhiri penantian panjang dengan kemenangan dramatis 0-1 melalui eksekusi penalti sempurna Hakan Calhanoglu dalam laga penuh ketegangan.