Penunjukan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang PSSI dalam membangun fondasi kuat pengembangan pemain nasional, terutama menuju Piala Dunia 2026 dan kompetisi internasional lainnya di masa depan.
Sebagai Kepala Pemandu Bakat, Simon Tahamata akan bertugas mengidentifikasi dan merekrut talenta potensial dari dalam negeri maupun diaspora Indonesia di luar negeri, terutama di Belanda.
Ia akan bekerja erat dengan tim pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, Gerald Vanenburg, dan Nova Arianto. guna menjamin kualitas serta kesinambungan perkembangan sepak bola nasional.
“Kami sangat antusias menyambut Simon Tahamata dalam keluarga besar PSSI. Pengalaman dan keahliannya dalam pengembangan pemain muda akan menjadi aset berharga dalam perjalanan kami menuju panggung dunia,” ujar Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Simon Tahamata menyambut baik penunjukan ini. “Pertama, terima kasih atas semua pesan yang baik yang saya terima. Saya menantikan bekerja bersama coach Patrick Kluivert dan staf teknis lainnya di Indonesia,” ujarnya dikutip dari keterangan PSSI, Sabtu (24/5/2025).
Simon Melkianus Tahamata lahir di Vught, Belanda, pada 26 Mei 1956. Ia adalah sosok berdarah Maluku yang dikenal sebagai mantan pemain Timnas Belanda dan legenda klub-klub ternama, seperti Ajax Amsterdam, Standard Liege, dan Feyenoord.
Meski memiliki postur mungil dengan tinggi 1,64 meter, Tahamata dikenal sebagai winger lincah yang memiliki kontrol bola luar biasa, kecepatan, serta visi bermain yang cerdas.
Simon memulai karier sepak bolanya di klub lokal TSV Theole (1967–1971), lalu bergabung dengan akademi Ajax Amsterdam hingga 1976. Ia kemudian menembus tim utama Ajax dan bermain dari 1976 hingga 1980. Debutnya terjadi pada 24 Oktober 1976 saat Ajax menang 7-0 atas FC Utrecht.
Selama memperkuat Ajax, ia mencatatkan 149 pertandingan, 17 gol dan 33 assist, 3 gelar Liga Belanda (1976/1977, 1978/1979, 1979/1980), 1 Piala KNVB (1978/1979), dan semifinalis Piala Eropa I (1979/1980).
Pada tahun 1980, Simon bergabung dengan klub Belgia, Standard Liege, dan menjadi bagian penting dalam masa kejayaan mereka. Ia menyumbangkan 2 gelar Liga Belgia (1981/1982, 1982/1983), 1 Piala Belgia (1981), finalis Piala Eropa II (1981/1982), dan 40 gol dalam 129 laga.
Feyenoord Rotterdam, Beerschot, dan Germinal Ekeren menjadi pelabuhan berikutnya sebelum ia pensiun pada 1996. Di Belgia, Tahamata juga meraih penghargaan Man of the Season Belgian First Division dan Belgian Fair Play Award.
Karier Internasional
Tahamata memperkuat Timnas Belanda dari 1979 hingga 1986, mencatatkan 22 caps dan mencetak 2 gol. Debutnya bersama Oranje terjadi pada 22 Mei 1979 di Bern, Swiss, dalam laga ulang tahun ke-75 FIFA melawan Argentina.
Usai pensiun, Simon Tahamata aktif membina generasi muda. Ia melatih tim akademi dan junior di berbagai klub, seperti Standard Liege (1996-2000), Germinal Beerschot (2000-2004), Ajax Amsterdam (2004-2009, 2014-2024), Al Ahli Arab Saudi (2009-2014).
Pada 2015, ia mendirikan Simon Tahamata Soccer Academy untuk menyalurkan pengetahuan dan filosofi sepak bolanya kepada anak-anak muda.
Pada 3 Maret 2024, Simon Tahamata menerima penghormatan istimewa dari Ajax Amsterdam di Johan Cruyff Arena. Menjelang laga melawan Utrecht, ia dipersilakan memasuki lapangan dan disambut meriah oleh para suporter. Salah satu spanduk di tribune bertuliskan: “Oom Simon, Terima Kasih.” Sebuah momen emosional bagi legenda hidup tersebut.
Simon Tahamata dijadwalkan tiba di Indonesia pada akhir Mei 2025 untuk mulai menjalankan perannya. Harapannya, kehadiran pria berdarah Maluku ini akan menjadi angin segar dalam sistem scouting nasional yang lebih modern, profesional, dan bertaraf internasional.
Data Pribadi Simon Tahamata:
Nama lengkap: Simon Melkianus Tahamata
Tanggal lahir: 26 Mei 1956
Tempat lahir: Vught, Belanda
Tinggi badan: 1,64 m