Empat puluh tahun telah berlalu sejak Diego Maradona mengukir salah satu penampilan individu paling fenomenal dalam sejarah sepak bola dunia. Foto: FIFA.com
JAKARTA, (ERAKINI) – Empat puluh tahun telah berlalu sejak Diego Maradona mengukir salah satu penampilan individu paling fenomenal dalam sejarah sepak bola dunia.
Tepatnya pada 29 Juni 1986, sang kapten mengangkat trofi Piala Dunia setelah membawa Argentina menjuarai 1986 di Meksiko.
Di usia 25 tahun dan berada di puncak kariernya, Maradona menjadi pusat permainan Albiceleste sepanjang turnamen. Ia mencetak lima gol dan menyumbang empat assist, sekaligus mengantarkan Argentina meraih gelar dunia kedua mereka.
Perjalanan Argentina menuju takhta dunia tak lepas dari magis sang nomor 10 yang tampil menentukan di setiap fase turnamen.
Awal Gemilang Melawan Korea Selatan Argentina membuka kiprahnya di Grup A dengan kemenangan 3-1 atas Korea Selatan pada 2 Juni 1986. Maradona, yang baru mengambil alih ban kapten setelah absennya Daniel Passarella, langsung menunjukkan pengaruh besar.
Sundulan hasil tendangan bebasnya yang diblok lawan menjadi awal terciptanya gol Jorge Valdano. Ia kemudian memberikan assist untuk Oscar Ruggeri dan kembali berperan dalam gol kedua Valdano.
Pelatih Carlos Bilardo kala itu menilai kombinasi pergerakan Maradona dan Valdano berhasil membongkar pertahanan Korea Selatan.
Menaklukkan Juara Bertahan Italia
Tiga hari kemudian, Argentina bermain imbang 1-1 melawan juara bertahan Italia. Dalam pertandingan tersebut, Maradona mencetak salah satu gol favoritnya sepanjang karier.
Dengan sentuhan kaki kiri yang brilian, ia menaklukkan kiper Giovanni Galli untuk menyamakan kedudukan setelah Italia lebih dulu unggul melalui penalti Alessandro Altobelli.
Menurut Maradona, laga tersebut menjadi titik awal terbentuknya chemistry sempurna tim Argentina yang kemudian mendominasi turnamen.
Kreator Kemenangan atas Bulgaria Argentina memastikan lolos dari fase grup setelah mengalahkan Bulgaria 2-0 pada 10 Juni. Maradona kembali menjadi arsitek serangan dengan mengirim umpan silang yang diselesaikan Jorge Burruchaga menjadi gol kedua.
Kolaborasi Maradona dan Burruchaga mulai terlihat sebagai salah satu senjata utama Argentina di Meksiko.
Menyingkirkan Uruguay
Pada babak 16 besar, Argentina menundukkan Uruguay 1-0 lewat gol Pedro Pasculli. Meski tidak mencatatkan gol maupun assist, Maradona tetap menjadi pusat perhatian.
Saat itu popularitasnya di Meksiko terus meningkat. Setiap kemunculannya di ruang publik selalu disambut kerumunan penggemar yang ingin melihat lebih dekat sang bintang.
"Tangan Tuhan" dan Gol Terbaik Sepanjang Masa
Puncak keajaiban Maradona terjadi pada perempat final melawan Inggris di Stadion Azteca, 22 Juni 1986. Dalam rentang empat menit, ia mencetak dua gol yang kemudian menjadi bagian dari sejarah sepak bola dunia.
Gol pertama lahir melalui aksi kontroversial yang kemudian dikenal sebagai "Hand of God" atau "Tangan Tuhan", saat ia menyentuh bola dengan tangan sebelum melewati kiper Peter Shilton.
Tak lama berselang, Maradona mencetak gol yang hingga kini dianggap sebagai salah satu gol terbaik sepanjang masa. Ia menggiring bola dari area pertahanannya sendiri, melewati sejumlah pemain Inggris, sebelum menaklukkan Shilton.
Gol tersebut kemudian dikenal sebagai "Goal of the Century" atau Gol Abad Ini.
Dua Gol ke Gawang Belgia
Di semifinal melawan Belgia, Maradona kembali menjadi pembeda. Ia mencetak dua gol dalam kemenangan 2-0 yang membawa Argentina ke partai puncak.
Gol keduanya menjadi salah satu karya individu terbaik sepanjang turnamen, ketika ia melewati beberapa pemain Belgia sebelum menaklukkan Jean-Marie Pfaff.
Sentuhan Terakhir di Final
Pada final melawan Jerman Barat, Maradona mendapat pengawalan ketat dari Lothar Matthäus. Meski tak mencetak gol, ia tetap menentukan hasil pertandingan.
Saat skor imbang 2-2, Maradona melihat ruang kosong dan mengirim umpan terobosan sempurna kepada Burruchaga pada menit ke-84. Sang gelandang kemudian mencetak gol kemenangan yang memastikan Argentina menang 3-2 sekaligus meraih gelar juara dunia. Media Prancis L'Equipe kala itu menyebut kemenangan Argentina sebagai "penobatan Maradona".
Empat dekade kemudian, Piala Dunia 1986 masih dikenang sebagai panggung terbesar Diego Maradona. Turnamen tersebut bukan hanya mengantarkan Argentina menjadi juara dunia, tetapi juga mengukuhkan sang legenda sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.