Nama Basral Graito Hutomo mendadak mencuri perhatian publik Tanah Air setelah meraih medali emas cabang skateboard SEA Games 2025. Foto: Instagram Kemenpora
Kini, Basral menjadi atlet paling ramai dibicarakan di dunia maya dari ajang SEA Games 2025. Videonya yang sukses menyelesaikan nomor extreme skateboard street masih terus viral beberapa hari terakhir. Remaja 18 tahun itu mendadak mencuri perhatian. Padahal, cabang olahraga skateboard selama ini jarang dilirik, bahkan kerap dipandang sebelah mata
Dirangkum Erakini, Rabu (17/12/2025), Basral sudah lama disebut sebagai bakat langka oleh kalangan skater profesional. Namun, publik Indonesia baru benar-benar menyadari potensinya saat ia berdiri di podium tertinggi di Arena Extreme Sports Park Rajamangala, Bangkok, pada Minggu (14/12/2025) malam.
Basral lahir di Tangerang pada 2007 dan menghabiskan masa kecil di sana hingga TK. Saat memasuki SD tahun 2015, keluarganya pindah ke Karanganyar, Jawa Tengah Raihan emas di SEA Games 2025 bukanlah hasil instan. Basral sudah mulai mencuri perhatian saat SEA Games 2019, saat ia masih berusia 12 tahun.
Kecintaan Basral terhadap skateboard sudah muncul sejak kecil. Dari iseng sekadar mainan bersama teman, ia kemudian serius menekuni skateboard. Saat duduk di kelas 3 SD, Basra mulai berlatih skateboard.
Basral kerap latihan skateboard di kawasan Stadion Manahan, di bawah flyover Purwosari, hingga Taman Pancasila Karanganyar. Sang ayah yang mendukung hobi sang anak kemudian kerap mengikutkan Basral mengikuti perlombaan.
"Awalnya ikut lomba-lomba di daerah, kayak di Jogja, Malang. Dulu diantar bapak naik motor, atau sama kakaknya," ujar kakak Basral, Arum Kindi Alzabar (21) kepada awak media.
Pada tahun 2019, Basral dipanggil untuk mengikuti Sea Games di Filipina. Pada SEA Games pertamanya itu Basral sukses meraih mendali Perunggu. Namun, impiannya untuk meraih emas tak pernah pudar. Ia terus berlatih meningkatkan skill. Jatuh bangun ia lalui hingga akhirnya impian itu terbayar di SEA Games 2025.
Mental Pejuang di Tengah Tekanan Tuan Rumah
Tapi, tidak mudah mencapai hasil ini. Dikutip dari antaranews, malam itu,atmosfer pertandingan sepenuhnya berpihak kepada tuan rumah. Ribuan penonton Thailand memberi dukungan habis-habisan kepada Kirin Petkiree dan Thawatchai Sianghoueng.
Sorak sorai yang menggema justru menjadi tekanan besar bagi Basral dan skater non-Thailand lainnya. Keunggulan Thailand begitu jelas. Mereka bermain di kandang sendiri, di skate park yang sudah menjadi “rumah” Kirin dan Thawatchai.
Terlebih program pelatihan mereka telah berjalan setidaknya tiga tahun, jauh lebih lama dibanding tim Indonesia yang baru menjalani pemusatan latihan sekitar tujuh bulan di Wibawa Mukti, Cikarang.
Thailand bahkan merekrut pelatih kelas dunia, Keeny Reed, skateboarder profesional Amerika Serikat yang dikenal sebagai figur penting dalam subkultur skate global. Reed pula yang membina Vareeraya Sukasem atau ST, skater muda Thailand yang tampil di Olimpiade Paris 2024 dan dipercaya membawa api obor pembukaan SEA Games 2025.
Sebaliknya, tim Indonesia ditangani pelatih lokal yang tumbuh bersama komunitas skateboard dalam negeri. Salah satunya Leopold Anggi, pelatih skateboard street timnas, yang justru merupakan penggemar Keeny Reed.
Dengan segala perbedaan itu, ketimpangan kekuatan tampak nyata. Namun, Basral punya sesuatu yang tak bisa dilatih, yakni mental pejuang.
Ia jatuh pada percobaan pertama single trick. Kepalanya membentur lantai dengan keras hingga suara benturan terdengar jelas. Tim medis langsung berlari ke arahnya. Tetapi sebelum paramedis menyentuhnya, Basral bangkit, mengusap belakang kepalanya, mengambil papan, dan bersiap mencoba lagi.
Dua kegagalan membuat Basral terlempar ke posisi empat. Kirin dan Thawatchai memimpin dengan skor 153,22 dan 152,31. Sanggoe Darma Tanjung bahkan berada di atas Basral dengan 145,77 poin. Sementara Basral masih tertahan di 76,64 poin dari sesi run.
Suporter tuan rumah makin riuh. Tekanan mental berada di puncaknya. Pelatih menyarankan Basral bermain aman. Rekannya sesama skater, Aldwin, juga mengingatkan agar ia memilih trik lain. Namun Basral bergeming.
Di percobaan terakhir—momen hidup atau mati—Basral kembali memilih trik yang sama, yakni 360 flip to boardslide di rail yang curam. Trik tingkat tinggi, berisiko besar, dan tidak banyak skater mampu melakukannya.
Papan berputar 360 derajat, terbalik di udara, meluncur di rail, lalu mendarat sempurna. Air mata Basral pun langsung pecah. Arena mendadak gempar. Tim ofisial Indonesia berlari ke arah Basral, memeluknya, menggendongnya sambil menyelimuti tubuhnya dengan Merah Putih.
Dari posisi keempat, Basral melonjak ke peringkat pertama dengan 166,67 poin. Video momen itu pun langsung viral. Bukan hanya karena medali emas, tetapi karena kelas dunia dari trik yang ditampilkan Basral.
Saat ini, Basral menempati peringkat 61 dunia versi World Skate Ranking. Basral pun membuktikan satu hal, yakni keterbatasan bukan alasan untuk kalah. Basral telah bertarung habis-habisan untuk Merah Putih. Kini Basral bersiap menunjukkan bakat alaminya di Olimpiade Los Angeles 2028.