Nama Said El Mala tengah mencuri perhatian publik sepak bola. Pemuda yang tengah bersinar bersama FC Cologne ini baru saja mendapat panggilan Timnas Jerman. Foto: FIFA
JAKARTA, (ERAKINI) – Nama Said El Mala tengah mencuri perhatian publik sepak bola. Pemuda yang tengah bersinar bersama FC Cologne ini baru saja mendapat panggilan pertamanya ke Timnas Jerman berkat keberanian, teknik, dan flair khasnya di lapangan.
Bagi siapa pun yang menyaksikan laga kandang musim ini, pasti tak asing dengan deretan jersey bernomor 13 di tribun. Nomor itu milik , pemain yang baru bergabung pada musim panas lalu, namun sudah menjadi idola baru para pendukung Effzeh.
Performa cemerlang pemain sayap kiri berbakat itu juga menarik perhatian pelatih Timnas Jerman Julian Nagelsmann, yang memanggilnya untuk pertama kali di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Luksemburg dan Slovakia akhir pekan ini.
“Saya ingin Said menunjukkan sisi cerianya yang bebas dan penuh semangat,” ujar Nagelsmann, dilansir laman resmi FIFA, Kamis (13/11/2025).
Sementara El Mala tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Saya sangat senang bisa dipanggil ke tim nasional. Ini adalah penghargaan besar atas kerja keras saya, dan saya bangga bisa mewakili Cologne dengan mengenakan seragam timnas,” kata pemain berusia 19 tahun itu di laman resmi klub.
Kisah El Mala terbilang luar biasa. Lahir di Krefeld, antara Duisburg dan Düsseldorf, ia tumbuh tidak jauh dari Cologne. Musim lalu, ia masih bermain untuk Viktoria Cologne di kasta ketiga Liga Jerman. Setahun sebelumnya, pada usia 17 tahun, ia dipromosikan ke tim utama setelah mencetak total 17 gol dan asis dalam 19 pertandingan di level U-19.
Pada Maret 2024, El Mala mencetak gol kemenangan spektakuler saat melakukan debut senior untuk Viktoria dalam laga 1-0 melawan VfB Lübeck. “Saya belum sempat melihatnya di televisi, tapi dari tempat saya berdiri, itu terlihat luar biasa,” kata pelatih Viktoria saat itu, Olaf Janssen.
Bakatnya pun tak luput dari pantauan klub besar di wilayah tersebut. Pada Juni 2024, FC Cologne mengalahkan pesaing seperti Borussia Dortmund untuk mengamankan tanda tangan El Mala dan kakaknya, Malek. Namun karena terkena larangan transfer, keduanya dipinjamkan kembali ke Viktoria selama semusim.
Setelah musim yang sukses, dengan 13 gol dan 5 asis dalam 32 pertandingan, Said muda akhirnya resmi berseragam Cologne pada musim panas 2025 dengan kontrak hingga 2030. Meski lebih sering dimainkan sebagai super sub, ia sudah mengoleksi empat gol dan dua asis hanya dalam 385 menit bermain.
Capaian itu cukup untuk menarik perhatian Nagelsmann. El Mala pun menjadi pemain Cologne pertama yang kembali dipanggil ke timnas Jerman sejak Jonas Hector.
Namun semua ini nyaris tak pernah terjadi. Di usia 14 tahun, El Mala sempat dilepas Borussia Monchengladbach dan bahkan mempertimbangkan untuk berhenti bermain sepak bola. “Sulit untuk diterima,” kenangnya. “Saya tiba-tiba saja dilepas. Sebagai anak 14 tahun, saya bertanya pada diri sendiri: ‘Apa salah saya?” lanjutnya.
Untungnya, sang kakak, Malek, meyakinkannya untuk bergabung dengan klub lokal TSV Meerbusch. “Malek punya peran besar,” ungkap Said kepada Federasi Sepak Bola Jerman (DFB). “Dia yang membujuk saya bermain di TSV Meerbusch di Liga Lower Rhine setelah saya keluar dari Gladbach.”
Kedua bersaudara itu berkembang pesat di Meerbusch dan dua tahun kemudian sama-sama bergabung dengan tim U-19 Viktoria Cologne.
Said El Mala dikenal memiliki gaya bermain penuh kreativitas seperti pesepak bola jalanan—tipe pemain yang kini semakin langka di era modern.
“Setelah keluar dari akademi, kami sering bermain bersama teman-teman di lapangan lokal selain latihan di klub,” kata Malek. “Kami bebas mencoba hal baru, banyak menggiring bola, dan berani duel satu lawan satu.”
Julian Nagelsmann sendiri dikenal memberi kebebasan berekspresi pada pemain kreatif seperti Jamal Musiala dan Florian Wirtz. Maka tak heran, gaya bermain bebas El Mala cocok dengan filosofi sang pelatih.
Selain tajam di depan gawang, pemain berusia 19 tahun ini memiliki kemampuan menggiring bola yang unik, yakni memperlambat tempo untuk mengecoh lawan, lalu tiba-tiba mempercepat langkah. Ia juga piawai menggiring bola di sisi lapangan maupun di dekat garis gawang dalam ruang sempit, memaksimalkan kontrol dan akselerasi.
Semua kualitas itu membuat El Mala layak mendapat tempat di skuad Jerman saat ini, meski sempat tidak percaya ketika menerima panggilan pertamanya.
“Saya biasanya tidak mengangkat telepon dari nomor tak dikenal,” ujarnya kepada Sky. “Lalu saya dapat pesan: ‘Hai, Julian Nagelsmann di sini, tolong hubungi saya.’ Saya langsung tunjukkan ke kakak saya, dan kami tahu, saya benar-benar dipanggil timnas.”
Pada Juni lalu, El Mala tampil gemilang di Kejuaraan Eropa U-19 dan menjadi pencetak gol terbanyak dengan empat gol. Kini, kurang dari enam bulan berselang, ia sudah menembus tim senior. Tak heran jika banyak klub besar Eropa mulai mengincarnya.
Pelatih Cologne, Lukas Kwasniok, menyadari bakat besar yang mereka miliki. “Kita harus realistis, mungkin dia tidak akan bertahan di sini selama 15 tahun,” ujarnya. “Tugas kami adalah mengembangkannya dengan hati-hati, lalu suatu hari menjualnya dengan nilai yang luar biasa.”