Carlos Alcaraz mengukir sejarah dalam kariernya usai menjuarai Australian Open 2026 usai memenangi final dramatis melawan Novak Djokovic di Rod Laver Arena, Minggu (1/2/2026). Foto: ausopen.com
MELBOURNE, (ERAKINI) –Carlos Alcaraz mengukir sejarah dalam kariernya usai menjuarai turnamen tenis bergengsi, Australian Open 2026. Petenis Spanyol itu menjadi pria termuda yang melengkapi karier Grand Slam setelah memenangi final dramatis melawan Novak Djokovic di Rod Laver Arena, Minggu (1/2/2026).
Dikutip dari laman resmi Australian Open, dalam laga puncak yang berlangsung sengit, Alcaraz yang berstatus peringkat satu dunia menundukkan juara AO 10 kali Novak Djokovic dengan skor 2-6, 6-2, 6-3, 7-5. Kemenangan tersebut memastikan gelar Australian Open pertama bagi Alcaraz sekaligus untuk kali pertama mengukir namanya di Norman Brookes Challenge Cup.
Kemenangan yang diraih dalam waktu tiga jam dua menit itu memecahkan rekor legendaris Don Budge, yang bertahan sejak Roland Garros 1938. Saat itu, Budge menuntaskan career Grand Slam beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-23. Alcaraz kini melakukannya pada usia 22 tahun.
Tak hanya itu, Alcaraz juga tercatat sebagai petenis putra termuda di Era Terbuka yang mengoleksi tujuh gelar tunggal Grand Slam, melampaui pencapaian Bjorn Borg yang mencatatkan rekor serupa pada usia 23 tahun.
Keberhasilan menaklukkan Djokovic, yang juga merupakan pemain terakhir yang melengkapi career Grand Slam di Roland Garros 2016, menjadikan Alcaraz sebagai petenis pria kesembilan dalam sejarah yang meraih career Grand Slam, sekaligus yang pertama menyelesaikannya di Australian Open.
Final Sarat Gengsi dan Sejarah
Menjelang final, Djokovic unggul 5-4 dalam rekor pertemuan atas Alcaraz pada edisi ke-10 rivalitas mereka. Laga ini juga mencatatkan selisih usia 16 tahun, menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah final tunggal putra Grand Slam Era Terbuka.
Djokovic, yang berstatus unggulan keempat, relatif lebih segar karena menghabiskan waktu empat jam lebih sedikit di lapangan menuju final. Ia diuntungkan kemenangan walkover di babak keempat serta mundurnya unggulan kelima Lorenzo Musetti akibat cedera pada perempat final. Sementara Alcaraz harus melalui jalan yang lebih berat.
Disaksikan langsung oleh Rafael Nadal, peraih 22 gelar Grand Slam, pertandingan berlangsung di bawah atap terbuka dengan atmosfer luar biasa. Sorakan “Vamos Carlitos” dan “Adje Nole” menggema sejak awal laga.
Djokovic tampil dominan pada set pertama. Reputasinya sebagai salah satu returner terbaik dunia kembali terlihat saat mematahkan servis Alcaraz dan menutup set pembuka dengan kemenangan 6-2.
Alcaraz Bangkit dan Mengunci Gelar
Memasuki set kedua, Alcaraz bangkit. Ia meraih break pertamanya setelah Djokovic melakukan kesalahan volley, lalu mempertahankan momentum hingga mengunci set dengan servis keras berkecepatan 200 km/jam.
Kepercayaan diri Alcaraz semakin meningkat di set ketiga. Salah satu momen terbaik terjadi saat ia memenangi reli panjang dengan pukulan backhand defensif tanpa melihat, yang disambut tepuk tangan meriah penonton. Alcaraz mematahkan servis Djokovic dan merebut set ketiga 6-3.
Set keempat berlangsung paling ketat. Djokovic sempat bertahan dari tekanan dan menyelamatkan sejumlah break point. Namun pada gim krusial saat kedudukan 5-6, Alcaraz memenangkan reli 24 pukulan yang menguras stamina lawannya.
Dua kesalahan beruntun dari Djokovic memberi championship point bagi Alcaraz. Pada kesempatan pertama, forehand Djokovic melayang keluar dan memastikan kemenangan sang petenis muda. Alcaraz langsung terjatuh ke lapangan, menutup wajahnya dengan kedua tangan, larut dalam euforia kemenangan bersejarah.
Dominasi Era Baru
Kemenangan ini membuat Alcaraz memperpanjang rekor kemenangannya atas Djokovic di final Grand Slam menjadi 3-0. Ia juga menjaga dominasi bersama Jannik Sinner, dengan keduanya merebut sembilan gelar tunggal putra Grand Slam terakhir.
Catatan tersebut menyamai dominasi Novak Djokovic dan Rafael Nadal pada periode Roland Garros 2010 hingga Roland Garros 2012, dan hanya berada di bawah rekor 11 gelar yang dikumpulkan Rafael Nadal dan Roger Federer antara Roland Garros 2005 hingga US Open 2007.
Dengan capaian ini, Carlos Alcaraz tak hanya menutup Australian Open 2026 sebagai juara, tetapi juga menegaskan dirinya sebagai ikon utama era baru tenis dunia.