MAKKAH, (ERAKINI) - Perjalanan menuju Tanah Suci menjadi kisah penuh perjuangan bagi Ramlah Sija, jemaah haji asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Di balik senyumnya saat tiba di Makkah, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan seorang ibu yang membesarkan tiga anak seorang diri hingga akhirnya mampu mewujudkan impian berhaji setelah menunggu selama 15 tahun.
Ramlah mengaku kehidupannya berubah drastis setelah sang suami meninggal dunia pada 2007. Saat itu, ketiga anaknya masih kecil dan membutuhkan biaya hidup serta pendidikan.
“Waktu suami meninggal, anak-anak saya masih kecil. Yang paling besar baru umur 13 tahun, yang kecil baru tiga tahun. Jadi saya harus kuat, karena saya bukan hanya ibu rumah tangga, tapi juga harus jadi kepala keluarga,” ujar Ramlah di Makkah, Rabu (6/5/2026).
Untuk menghidupi keluarganya, Ramlah melanjutkan usaha batu bata peninggalan sang suami. Namun karena pekerjaan itu dinilai cukup berat, ia kemudian mencoba peruntungan sebagai sales peralatan elektronik rumah tangga.
Selama sekitar 13 tahun, Ramlah menjalani pekerjaannya dengan berkeliling dari kampung ke kampung untuk menawarkan barang dagangan. Ia bahkan kerap pergi hingga ke wilayah Jeneponto yang membutuhkan perjalanan berjam-jam.
“Saya keliling jual elektronik dari pagi sampai sore, kadang sampai malam. Kalau rezeki bagus, sehari bisa jual lima unit. Tapi kalau tidak laku, ya sabar, besok coba lagi,” kenangnya.
Di tengah perjuangan ekonomi yang dijalani, keinginan untuk menunaikan ibadah haji perlahan tumbuh. Sebelum meninggal dunia, suaminya sempat berpesan agar aset keluarga digunakan untuk mendaftar haji.
“Suami saya pernah bilang, kalau ada rezeki, sawah itu dipakai saja untuk daftar haji. Pesan itu terus saya ingat,” tutur Ramlah.
Empat tahun setelah suaminya wafat, tepatnya pada 2011, Ramlah akhirnya memberanikan diri mendaftar haji dengan menjual dan menggadaikan aset yang dimiliki. Meski demikian, ia sempat merasa ragu dengan kemampuannya untuk berangkat ke Tanah Suci.
“Waktu itu saya berpikir, orang seperti saya apa bisa berhaji? Dari mana uangnya? Tapi saya bilang sama diri sendiri, kita berusaha saja, sambil berdoa. Kalau Allah menghendaki, pasti ada jalannya,” katanya.
Setelah mendaftar, Ramlah kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia terus bekerja demi membesarkan anak-anak dan menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.
Setelah menunggu selama 15 tahun, kabar keberangkatan itu akhirnya datang. Bahkan, Ramlah mengaku sempat tidak mengetahui bahwa namanya telah masuk daftar keberangkatan haji tahun ini.
“Saya sampai dicari-cari orang kampung. Mereka bilang nama saya sudah keluar. Waktu dapat kabar itu, rasanya campur aduk. Senang, terharu, tidak percaya. Karena ini penantian 15 tahun,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, setelah tiba di Tanah Suci dan menjalani umrah wajib, Ramlah mengaku hanya memiliki satu harapan besar, yakni mendoakan anak-anak dan keluarganya.
“Doa saya banyak. Minta kesehatan, keselamatan, umur yang berkah, rezeki yang baik, dan semoga anak-anak saya semua dapat jodoh terbaik. Namanya ibu, pasti selalu mendoakan anak-anaknya,” tuturnya.
Kisah Ramlah menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi dan beratnya hidup bukan menjadi penghalang untuk meraih panggilan ke Baitullah. Dengan kerja keras, kesabaran, dan doa, impian yang tampak jauh akhirnya dapat terwujud.