Search

Leuwidamar Disiapkan Jadi Laboratorium Sosial Nasional, PTKIN Se-Indonesia Siap Gelar KKN Nusantara 2026 di Tanah Baduy

JAKARTA, (ERAKINI) - Leuwidamar diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran sosial dan budaya nasional melalui pelaksanaan KKN Nusantara 2026. Sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai daerah di Indonesia turun langsung melakukan visitasi dan pemetaan sosial di kawasan tersebut pada Selasa, 12 Mei 2026.

Kegiatan ini melibatkan panitia nasional KKN Nusantara, jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, serta perwakilan kampus Islam negeri dari berbagai wilayah.

Visitasi dilakukan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan KKN Nusantara 2026 yang dijadwalkan berlangsung mulai 15 Juli hingga 23 Agustus 2026.

Leuwidamar dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah yang berada di selatan Kabupaten Lebak itu dinilai memiliki kekuatan sosial, budaya, dan lingkungan yang sangat relevan dengan tema besar KKN Nusantara tahun depan, yakni ekoteologi dan masyarakat adat.

Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Litapdimas) Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Dr Nur Kafid, mengatakan kawasan Leuwidamar menjadi lokasi strategis untuk pembelajaran sosial dan lingkungan bagi mahasiswa.

Ia mengatakan bahwa masyarakat di kawasan tersebut masih memiliki hubungan kuat dengan alam dan budaya lokal. Kondisi itu dianggap selaras dengan arah kebijakan Kementerian Agama yang saat ini menaruh perhatian besar terhadap isu ekoteologi dan pelestarian lingkungan. “Mahasiswa yang datang ke sini nantinya bukan hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga belajar secara langsung bagaimana masyarakat menjaga harmoni dengan alam, merawat lingkungan, sekaligus mempertahankan identitas budaya,” ujar Nur Kafid.

Masyarakat adat Baduy, lanjut dia, telah menunjukkan praktik hidup berkelanjutan yang masih terjaga hingga saat ini. Kehidupan masyarakat yang sederhana dan dekat dengan alam dinilai dapat menjadi contoh penting di tengah meningkatnya persoalan lingkungan dan perubahan sosial modern.

Sementara itu, Ketua Pelaksana KKN Nusantara 2026, Salim Rosyadi, menjelaskan pemilihan Kecamatan Leuwidamar dan Kecamatan Cirinten dilakukan setelah melalui sejumlah pertimbangan. Menurut dia, kedua wilayah tersebut memiliki kesesuaian kuat dengan tema pengabdian yang diangkat tahun ini. “Penempatan KKN Nusantara di Leuwidamar dan Cirinten berdasarkan kesesuaian dengan tema ekoteologi dan masyarakat adat,” kata Salim, dalam keterangannya, Rabu, 13 Mei 2026.

Leuwidamar, kata dia, memiliki potensi besar yang dapat dikaji mahasiswa, baik dari sisi lingkungan hidup, budaya, maupun kehidupan sosial masyarakat adat. Di wilayah tersebut terdapat komunitas Baduy Dalam, Baduy Luar, hingga komunitas Baduy Muslim yang hidup berdampingan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional mereka.

Sementara itu, Kecamatan Cirinten yang berbatasan langsung dengan Leuwidamar juga memiliki kawasan budaya Kasepuhan yang hingga kini masih bertahan dan menjaga tradisi leluhur.

Bagi panitia, keberadaan masyarakat adat menjadi kekuatan utama program KKN Nusantara tahun depan. Mahasiswa tidak hanya dituntut menjalankan program kerja, tetapi juga memahami cara hidup masyarakat yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Kedatangan rombongan PTKIN disambut langsung Camat Leuwidamar, Agung Nugraha. Dalam keterangannya, Agung menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya sebagai lokasi pelaksanaan KKN Nusantara 2026.

Ia menjelaskan Leuwidamar bukan hanya memiliki kekayaan budaya dan alam, tetapi juga sejarah panjang dalam perjalanan Kabupaten Lebak. Menurutnya, pada rentang tahun 1828 hingga 1842, Leuwidamar pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan melalui bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda yang tersebar di beberapa titik wilayah. “Potensi sejarah, budaya, dan lingkungan di Leuwidamar sangat besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan wisata edukasi dan budaya,” ujar Agung.

Meski demikian, Agung mengakui masih ada sejumlah persoalan sosial yang menjadi tantangan di wilayahnya. Salah satunya berkaitan dengan pengelolaan sampah dan pendidikan. Ia mengatakan masih terdapat anak-anak usia sekolah di sejumlah wilayah yang belum melanjutkan pendidikan formal.

Karena itu, kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah diharapkan mampu memberikan motivasi dan membuka kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan. “Masih ada anak-anak usia sekolah di beberapa wilayah yang putus pendidikan. Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah diharapkan dapat memberi motivasi dan membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi masa depan,” katanya.

Usai agenda penyambutan, rombongan melanjutkan kegiatan dengan pemetaan sosial ke Kampung Ciboleger dan Kaduketug yang berada di kawasan Baduy Luar. Kegiatan lapangan tersebut dipandu Sekretaris Desa Kanekes, Medi, yang juga berasal dari komunitas Baduy. Dalam pemaparannya, Medi menjelaskan jumlah masyarakat Baduy saat ini mencapai sekitar 5.300 jiwa. Mereka tinggal di wilayah seluas sekitar 5.537 hektare yang tersebar di 68 kampung.

Masyarakat Baduy, jelas dia, memiliki sistem kehidupan yang berbeda dibandingkan komunitas lain pada umumnya. Pendidikan formal, kata dia, belum menjadi bagian utama dalam sistem sosial masyarakat adat tersebut. Khusus di wilayah Baduy Dalam, masyarakat juga masih mempertahankan pola hidup tradisional. Mobilitas dilakukan dengan berjalan kaki dan layanan kesehatan lebih banyak mengandalkan pengobatan tradisional.

Meski hidup sederhana, masyarakat Baduy memiliki komitmen tinggi dalam menjaga kelestarian alam. Mereka meyakini keseimbangan lingkungan menjadi sumber utama keberlangsungan hidup komunitas adat. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa peserta KKN Nusantara 2026.

Selain menjalankan program pengabdian, mahasiswa nantinya diharapkan dapat memahami langsung praktik kehidupan masyarakat adat dalam menjaga lingkungan, budaya, dan solidaritas sosial. Kegiatan visitasi dan pemetaan sosial berlangsung selama satu hari penuh. Setelah agenda lapangan selesai, seluruh peserta mengikuti rapat koordinasi untuk mematangkan desain program KKN Nusantara 2026. Dengan persiapan yang semakin matang, Leuwidamar diproyeksikan bukan sekadar menjadi lokasi pengabdian mahasiswa. Kawasan itu juga diharapkan menjadi laboratorium sosial, budaya, dan lingkungan bagi mahasiswa PTKIN dari seluruh Indonesia.