Jalur Puncak selama ini sudah dikenal selalu macet pada saat akhir pekan, tetapi tetap saja masih tempat favorit masyarakat untuk liburan. Foto: Ilustrasi/Dok
BOGOR, (ERAKINI) - Kawasan Puncak Bogor kembali jadi sorotan setelah terjadi kemacetan parah pada Minggu (15/9/2024). Padahal, Jalur Puncak selama ini sudah dikenal selalu macet pada saat akhir pekan, tetapi tetap saja masih jadi tempat favorit masyarakat untuk liburan.
Puncak merupakan kawasan pegunungan yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Cianjur. Daerah ini dikenal dengan keindahan alamnya yang memiliki panjang. Puncak sudah puluhan tahun menjadi tempat favorit warga Jakarta dan daerah penyangga, untuk berlibur bersama keluarga. Tak heran bila setiap akhir pekan selalu .
Diolah dari berbagai sumber, Senin (16/9/2024), Puncak awalnya dikenal sebagai daerah perkebunan teh yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, dan kini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas.
Keindahan alam Puncak menarik perhatian Presiden Soekarno, yang kemudian mendirikan Restoran Riung Gunung sebagai tempat menikmati panorama alam. Selain Restoran Riung Gunung, terdapat juga berbagai tempat rekreasi dan agrowisata di kawasan Puncak, seperti Perkebunan Teh Gunung Mas dan Gantole (paralayang).
Kemudian, Taman Safari, Kebun Bunga, Kawah Gunung Gede, Taman Sakura, Kebun Raya Cibodas, The Illusion, Curug Leuwi Lieuk, Bogor Cimory Riverside, dan Telaga Warna. Di Puncak pas terdapat sebuah masjid indah dengan arsitektur yang khas dan sederhana. yaitu Masjid Atta'awun. Di kawasan Puncak juga terdapat banyak vila dan penginapan bagi masyarakat yang berwisata.
Sejak masa Hindia Belanda, Puncak sudah menjadi destinasi wisata favorit, terutama bagi pelancong Eropa dan Amerika. Banyak catatan para pelancong tentang keindahan alam daerah pegunungan, seperti yang ditulis oleh Achmad Sunjayadi dalam Pariwisata di Hindia Belanda, 1891-1942. Hampir semua dataran tinggi di Jawa saat itu direkomendasikan untuk dikunjungi oleh para pelancong.
Keberadaan Jalan Raya Puncak kemudian membuka akses bagi para pelancong. Beberapa lokasi sudah menjadi destinasi wisata pilihan sejak masa Kolonial. Misalnya, Telaga Warna yang terletak di antara Bogor dan Sindanglaya (Cianjur).
Dalam Java the Wonderland (1900) menyebutkan, pemandangan indah dan udara sejuk di sekitar Telaga Warna menjadi pelepas lelah wisatawan yang melakukan perjalanan via Jalan Raya Pos menuju Cianjur. Kemudian Kebun Raya Cibodas. Dalam Java the Wonderland, Kebun Raya Cibodas menjadi salah satu tempat wisata favorit palancong.
Kebun Raya Cibodas erat kaitannya dengan cinchona calisaya atau kina, salah satu jenis tanaman yang penting di masa Hindia Belanda. Kebun Raya Cibodas didirikan pada 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann.
Tujuan pendirian Kebun Raya Cibodas adalah sebagai tempat aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan asal luar negeri yang mempunyai nilai penting dan ekonomi yang tinggi, salah satunya adalah Pohon Kina yang berasal dari daerah Amerika Selatan. Kebun Raya Cibodas berada di ketinggian sekitar 1.425 mdpl. Di Kebun Raya Cibodas ini pelancong juga dapat menikmati keindahan Air Terjun Cibeureum.
Tempat wisata favorit pelancong Belanda lainnya adalah Kawah Gunung Gede. Dari Air Terjun Cibeurum, jika berjalan terus ke atas, pelancong juga dapat melihat Kawah Gunung Gede. Dari Puncak Gunung Gede, pelancong juga dapat menikmati indahnya matahari terbit dengan jelas. Hal ini tertulis dalam Illustrated tourist guide to Buitenzorg, the Preanger and Central Java (1913).
Lokasi wisata lainnya adalah Kawah Gunung Salak. Illustrated tourist guide to Buitenzorg, the Preanger and Central Java juga menyebutkan bahwa untuk dapat menikmati pemandangan kawah butuh waktu hampir satu hari penuh dengan medan yang agak sulit. Dari Buitenzorg dapat menggunakan kereta api dan turun di Stasiun Cicurug. Dari stasiun perjalanan dilanjutkan menuju daerah Cidahu.
Sejarah Pembangunan Jalan Raya Pos
Keberadaan Puncak sebenarya tidak terlepas dari proyek besar yang digagas oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels (1808-1811), yaitu Grotepost Weg atau Jalan Raya Pos. Jalan ini membentang di sepanjang utara Pulau Jawa yang menghubungkan Anyer (Banten) dengan Panarukan (Jawa Timur).
Pada awal abad ke-19, Daendels memulai pembangunan Grotepost Weg atau Jalan Raya Pos, yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Jalan ini dibangun untuk mempermudah transportasi, khususnya dalam pengiriman pesan dan pertahanan terhadap serbuan Inggris.
Pembangunan jalan raya pos yang dimulai dari Anyer, Jakarta, lalu ke masuk ke Bogor melalui Jalan Jakarta/Bataviascheweg dan Jalan Perniagaan (Handelstraa), pada awalnya tidak menemukan kendala yang berarti.
Namun, ketika memasuki kawasan Gadok, Cisarua, Puncak, Cianjur, Bandung, Sumedang, hingga Cirebon banyak terkendala oleh pebukitan dan pegunungan yang terjal. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengutus Kolonel Von Lutzouw dari tentara Kerajaan Belanda untuk memimpin proyek pembangunan jalan yang terkendala oleh kondisi medan yang berbukit-bukit itu.
Pada waktu membuka lahan di kawasan Puncak, para pekerja mendapatkan upah yang paling besar yaitu 10 ringgit/bulan (upah di jalan lain hanya berkisar 1 ringgit hingga ringgit per bulan).
Pembangunan jalan raya di kawasan Puncak bisa dibilang adalah yang paling sulit. Bahkan para pekerja yang dikerahkan untuk membuka dan meratakan lahan berjumlah 400 orang pekerja yang sebagian besar didatangkan dari Jawa. Beratnya medan tersebut adalah karena keberadaan Gunung Megamendung yang berketinggian 1880 mdpl yang lokasinya berada di sekitar Puncak pas yang akan dijadikan jalan raya.
Walter Kinloch (1853) mencatat bahwa jalan di Cisarua saat itu masih sangat terjal, sehingga mereka membutuhkan bantuan beberapa ekor kerbau untuk menarik kereta kuda. Meski demikian, pembangunan Jalan Raya Pos sepanjang hampir 1.000 km ini hanya memakan waktu selama satu tahun yang dimulai pada Mei 1808 hingga September 1809.
Sebelum Jalan Taya Puncak dibangun, perjalanan menuju Cipanas dari Batavia (Jakarta) memakan waktu hingga delapan hari. Setelah pembangunan jalan ini selesai, perjalanan tersebut bisa dilalui dalam waktu kurang dari satu hari.