Prof. Dr. Christin Wibhowo, S.Psi, M.Si, Psikolog (tiga dari kiri) saat dikukuhkan Soegijapranta Catholic University (SCU) sebagai Guru Besar Psikologi, Rabu (1/10/2025). Foto: Dok. SCU
SEMARANG, (ERAKINI) – Soegijapranata Catholic University (SCU) alias Unika Soegijapranata Semarang mengukuhkan Prof. Dr. Christin Wibhowo, S.Psi, M.Si, Psikolog, sebagai guru besar dari bidang psikologi kampus setempat, Rabu (1/10/2025).
Rektor SCU Robertus Setiawan Aji Nugroho mengemukakan pengukuhan Prof. Christin ini menjadi kebanggaan tersendiri, salah satu sebabnya karena dia adalah alumni kampus SCU.
“Ini setelah empat tahun terakhir (SCU) panen guru besar, sembilan orang, dari yang sudah existing ada lima orang, sebenarnya enam tapi satu sudah wafat,” kata Rektor di Kampus SCU, Bendan, Gajahmungkur, Kota Semarang, Rabu siang.
Pencapaian guru besar menjadi sebuah kebanggaan, kata Rektor, juga karena merupakan puncak jabatan akademik. Rektor mengemukakan Prof. Christin yang dikenal viral di media sosial dengan sapaan Prof Xtine, menjadi sosok dosen dan keluarga yang menjadi inspirasi.
“Beliau cukup senior di banding dengan saya, tetapi beliau adaptasi dengan tren yang sudah ada, sering muncul di media sosial, seperti di TikTok, kalau kebetulan menyimpan nomor beliau di WhatsApp juga sering muncul (video edukasi di status WA). Kalau SK (surat keputusan) sudah dari bulan Juli, ini juga jadi berkat rektorat yang lalu,” sambungnya.
Rektor juga mengapresiasi terobosan Prof. Christin yang membuat aplikasi Sovi Lau (Sobat Virtual Anti-Galau). Aplikasi yang dikembangkan bersama Fakultas Ilmu Komputer setempat.
Kembang untuk Negeri
Pada pengukuhannya, Prof. Christin menyampaikan orasi berjudul “Dari Kepribadian Ambang Menuju Kepribadian Berkembang: Sebuah Transformasi Ilmiah dan Kemanusiaan”
Dia mengemukakan banyak perilaku masyarakat yang menggambarkan kegalauan atau kekacauan dalam kehidupan. Perilaku galau tersebut di antaranya; penggunaan narkoba, kawin-cerai, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perilaku menyakiti diri atau mengakhiri hidup.
“Kita sebaiknya tidak mengabaikan perilaku-perilaku tersebut, karena perilaku itu bisa saja merupakan tanda-tanda adanya gangguan kepribadian ambang (Kembang) atau borderline personality disorder (BPD),” jelas Prof. Christin.
Penyebabnya, kata dia, ada banyak faktor. Di antaranya; trauma masa kecil. Misalnya anak sering melihat orangtuanya bertengkar atau orang yang dia sayangi disakiti.
“Walaupun tidak dipukul, itu akan membuat anak sakit. Jadi pola pengasuhan penting sekali. Juga ketika melarang sesuatu kepada anak, atau mengalami persoalan, orangtua menjelaskan, sekaligus membimbing mencarikan solusinya,” jelas dia.
Hal-hal seperti itu, nantinya, akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Salah satu dampaknya, sebut dia, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bisa mencari solusi ketika menghadapi persoalan.
“Kita masyarakat luas juga jangan melabeli (negatif). Dari beberapa kelemahannya, orang dengan Kembang memiliki beberapa kelebihan. Dengan kepribadian yang sensitif dan takut ditinggalkan, dia menjadi individu yang memiliki empati dan pemahaman yang baik tentang perasaan orang lain. Kemampuan berempati yang baik ini, tentu berguna baik bagi dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya,” kata dia.
“Inilah yang kemudian disebut sebuah transformasi, yaitu perubahan dari pribadi yang rapuh dan terluka menjadi pribadi yang menemukan kembali kekuatan dirinya. Dari Kembang si kepribadian ambang menjadi kepribadian yang berkembang. Dari borderline personality disorder menuju bloomed personality discovered,” tandas Prof. Christin.