Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNNES menggandeng Universiti Malaya untuk memperkuat riset internasional hingga joint supervision. Kolaborasi ini disepakati dalam FIPP International Forum 2026 di Ruang A6 FIPP, Kamis (19/2/2026). (Foto: FIPP UNNES).
SEMARANG, (ERAKINI) – Universitas Negeri Semarang melalui Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) terus memperluas jejaring internasionalnya. Lewat ajang FIPP International Forum 2026, fakultas ini menghadirkan akademisi dari Universiti Malaya serta Guru Besar dalam sesi kuliah tamu yang digelar di Ruang A6 , Kamis (19/2/2026).
Forum ilmiah tersebut merupakan hasil kolaborasi antara FIPPUNNES, Universiti Malaya, dan UIN Salatiga. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah pertukaran gagasan akademik, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat kemitraan antarperguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Pertemuan ilmiah ini selain menjadi ajang berbagi ilmu, juga menjadi pintu masuk bagi penguatan kolaborasi strategis antarperguruan tinggi di Asia Tenggara.
Dr Abd Razak Zakaria dari Universiti Malaya dalam paparannya mengupas tuntas ‘Malaysia Education Blueprint (2013-2025): Globalization and Future Education’. Ia menekankan pentingnya sistem pendidikan beradaptasi cepat dengan standar internasional guna memenuhi ekspektasi publik yang kian dinamis. "Transformasi ini memerlukan pergeseran strategis dan operasional yang nyata. Kita perlu mengevaluasi kinerja sistem saat ini terhadap tolok ukur global demi mewujudkan aspirasi siswa yang layak didapatkan oleh bangsa," kata Razak.
Selain itu, semangat inovasi ini diperkuat oleh peneliti UM lainnya, Rabiatul Adawiyah binti Suep, yang mempresentasikan modul robotika edukasi untuk mengasah computational thinking siswa. Sementara itu, Mohd Adiel Azhar bin Harun menyoroti efektivitas transformasi digital pada sistem penerimaan mahasiswa baru melalui studi kasus UPUOnline.
Dari perspektif teknologi, Guru Besar FIPPUNNES, Prof Dr Purwo Susongko membawa diskusi kembali ke akar budaya. Melalui presentasi berjudul "How to Assess Students’ Temperament Using Ancient Javanese Knowledge", ia menjelaskan bagaimana kearifan lokal Jawa dapat menjadi instrumen krusial bagi guru dalam merancang intervensi pendidikan karakter yang efektif.
Setelah sesi akademik rampung, agenda berlanjut pada pembahasan teknis mengenai perluasan kerja sama. FIPP International Forum 2026 menjadi momentum bagi pimpinan FIPPUNNES untuk menjajaki peluang kolaborasi lebih dalam dengan Universiti Malaya dan UIN Salatiga.
Wakil Dekan Bidang Bisnis, Riset, dan Kerjasama FIPPUNNES, Siti Nuzulia mengungkapkan bahwa pihaknya telah menawarkan sejumlah skema kerja sama konkret kepada pihak Universiti Malaya. "Kami menawarkan skema riset kolaborasi, penulisan artikel ilmiah bersama, visiting professor, hingga joint supervisor untuk mahasiswa pascasarjana," kata Siti Nuzulia.
Dalam waktu dekat, kata dia, kedua belah pihak akan segera merealisasikan program external examiner. Pertemuan ini diakhiri dengan kesepahaman bersama yang akan segera ditindaklanjuti melalui penandatanganan dokumen kerja sama resmi (MoU/MoA).
Sinergi lintas negara ini menjadi langkah konkret FIPPUNNES dalam mendukung pencapaian SDGs nomor 4 terkait pendidikan berkualitas serta nomor 17 dalam memperkuat kemitraan global demi akselerasi inovasi akademik di Asia Tenggara.