Korban Meninggal Bencana Sumut Capai 116 Jiwa, Bantuan Masih Terkendala Akses Jalan Terputus
Thomas Pulungan
SILANGIT, (ERAKINI) - Jumlah korban meninggal akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut) mencapai 116 orang. Sementara penyaluran bantuan via darat masih terkendala akses jalan yang terputus.
Memasuki hari keempat sejak bencana terjadi pada 25 November 2025, Sumut menjadi provinsi terdampak terparah. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan, hingga Jumat sore total korban meninggal dunia yang terdata sebanyak 116 orang dan 42 lainnya masih dalam pencarian.
"Datanya bisa terus berkembang karena masih ada titik-titik longsor yang belum bisa ditembus,” ujar Suharyanto dalam keterangan resmi, Jumat (28/11/2025).
Ia menjelaskan, sejumlah lokasi yang tertutup material longsor diperkirakan masih menyimpan korban. Proses pencarian dilakukan secara bertahap karena medan yang berat dan cuaca yang tidak stabil.
Adapun sebaran korban meninggal dalam bencana di Sumut sebagai berikut:
- Tapanuli Utara: 11 jiwa
- Tapanuli Tengah: 47 jiwa
- Tapanuli Selatan: 32 jiwa
- Kota Sibolga: 17 jiwa
- Humbang Hasundutan: 6 jiwa
- Kota Padang Sidempuan: 1 jiwa
- Fakfak Barat: 2 jiwa
- Mandailing Natal: tidak ada laporan korban meninggal
Salurkan Bantuan via Udara
Hari ini Suharyanto meninjau wilayah terdampak bencana hidrometeorologi basah di Sumut melalui jalur udara menggunakan pesawat kecil dari Bandara Silangit, Tapanuli Utara. Peninjauan ini dilakukan setelah satu hari sebelumnya rombongan BNPB tertahan di lapangan akibat sejumlah akses yang masih terputus oleh timbunan longsor di berbagai titik.
Dari udara, Kepala BNPB menyusuri kawasan Sibolga, Padang Sidempuan, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan wilayah sekitar.
Dari dalam kabin pesawat Cessna Caravan PK-SNG berlogo BNPB, terlihat jelas dampak kerusakan yang cukup masif akibat bencana yang melanda. Setelah beberapa menit melakukan pengamatan udara, Suharyanto mendarat di Pinangsori untuk menyalurkan bantuan langsung kepada warga berupa paket sembako dan peralatan dasar yang diperlukan selama masa tanggap darurat.
Sementara itu, bantuan logistik dan peralatan yang dikirim dari Jakarta juga telah tiba di Bandara Silangit pada hari ini menggunakan pesawat kargo. Seluruh bantuan segera dibongkar dan dipersiapkan untuk distribusi lebih lanjut, baik melalui jalur darat maupun udara menggunakan helikopter, guna memastikan penanganan darurat berjalan cepat dan tepat sasaran.
Untuk Kota Sibolga, dukungan logistik yang didistribusikan meliputi 200 paket sembako, 200 pouch makanan siap saji, satu unit tenda pengungsi, 100 matras, 20 velbed, 100 selimut, satu pompa alcon 6 HP, satu genset, serta satu perahu polietilen lengkap dengan mesin.
Bantuan dengan rincian serupa juga dialokasikan untuk Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal. Sementara itu, Banlogpal Kabupaten Tapanuli Utara menerima 200 paket sembako, 200 pouch makanan siap saji, satu tenda pengungsi, 100 matras, 20 velbed, dan 100 selimut.
Untuk Kota Gunung Sitoli dan Kabupaten Nias Selatan, masing-masing wilayah menerima 200 paket sembako, 200 pouch makanan siap saji, satu tenda pengungsi, 100 matras, 20 velbed, dan 100 selimut.
Pada penebalan tahap kedua, BNPB kembali mengerahkan dukungan tambahan. Untuk Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, masing-masing wilayah memperoleh satu set Starlink, satu light tower portable, lima tenda pengungsi, 100 tenda keluarga, 20 set peralatan dapur, 10 chainsaw, serta 10 paket toolkit.
Selain itu, BNPB juga menyalurkan bantuan kepada Satgas Kodam I berupa 500 selimut, 100 velbed, 300 matras, 300 kasur lipat, lima tenda pengungsi, 300 paket sembako, 300 paket makanan siap saji, dan 300 hygiene kit.

















