Warga Binaan Nusakambangan Terbanyak Terima Remisi Hari Raya Imlek
Eka Setiawan
SEMARANG, ERAKINI – Sebanyak 5 warga binaan pemasyarakatan (WBP) alias narapidana di Jawa Tengah menerima Remisi Khusus (RK) Hari Raya Imlek, Selasa (17/2/2026). Besarannya beragam, mulai 15 hari hingga pengurangan hukuman pidana penjara 2 bulan.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah memberikan RK Imlek ini sebagai bentuk penghargaan atas perubahan sikap dan kedisiplinan yang mereka tunjukkan selama menjalani masa pidana.
Lima penerima RK Imlek itu berasal dari Lapas Kelas I Semarang, Lapas Kelas IIA Sragen, Lapas Kelas IIA Besi Nusakambangan, Lapas Kelas IIA Permisan Nusakambangan dan Lapas Kelas IIA Gladakan Nusakambangan. Masing-masing lapas itu ada 1 narapidana yang mendapatkan RK Imlek.
Besaran pengurangan hukumannya 15 hari untuk 1 penerima, 1 bulan bagi 1 penerima, 1 bulan 15 hari bagi 2 penerima dan 2 bulan bagi 1 penerima.
Sementara, berdasarkan klasifikasi tindak pidana, didominasi kasus narkotika sebanyak 4 orang, sementara 1 lainnya pidana umum.
Kelimanya dinyatakan layak menerima remisi setelah memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku. Di antaranya; telah menjalani masa pidana sekurang-kurangnya enam bulan, menunjukkan perilaku baik tanpa tercatat melakukan pelanggaran disiplin (register F), serta aktif dan konsisten mengikuti program pembinaan selama berada di Lembaga Pemasyarakatan.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Tengah, Mardi Santoso, menegaskan bahwa remisi bukanlah hadiah semata, melainkan hak yang diberikan kepada warga binaan yang benar-benar menunjukkan perubahan positif.
“Remisi Khusus Hari Raya Imlek ini merupakan hak warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif dan substantif. Ini adalah bentuk apresiasi negara atas perilaku baik serta kesungguhan mereka dalam mengikuti program pembinaan,” ujar Mardi Santoso pada keterangan tertulisnya, Selasa (17/2/2026).
Peringatan hari raya keagamaan, sebut Mardi, memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk merenung dan memperbaiki diri, termasuk bagi warga binaan yang tengah menjalani proses pembinaan di dalam lapas.
“Diharapkan, pengurangan masa pidana yang diterima dapat menjadi dorongan moral bagi mereka untuk terus menunjukkan perubahan positif serta menyiapkan diri kembali ke tengah masyarakat dengan semangat dan harapan baru,” lanjut dia.

















