Pemerintah mengeluarkan berbagai jurus untuk meredam pelemahan rupiah. Pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) - Pemerintah mengeluarkan berbagai jurus untuk meredam pelemahan rupiah. Pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah terus mengambil langkah untuk membantu menstabilkan , salah satunya dengan lebih aktif masuk ke . Pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp2 triliun per hari untuk masuk ke guna menjaga stabilitas nilai tukar dan menahan arus keluar modal asing.
“Kita sudah masuk ke bond market bertahap. Asing juga sudah masuk, jadi seharusnya ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil,” kata Purbaya usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (18/5/2026) dikutip dari Antara.
Purbaya menyebutkan, pemerintah berencana menjalankan skema Dana Stabilisasi Obligasi (Bond Stabilization Fund) dengan memanfaatkan anggaran yang tersedia. Menurut Purbaya, perputaran dana di pasar obligasi diharapkan dapat mendorong sentimen positif sehingga investor asing kembali masuk ke pasar domestik.
Sebelumnya, pada Selasa (12/5), Purbaya menyatakan pemerintah siap menstabilkan pasar obligasi dengan menjaga tingkat imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) guna meredam tekanan terhadap rupiah. Intervensi dilakukan untuk menahan kenaikan yield SBN yang berpotensi memicu capital loss bagi investor asing dan mendorong arus modal keluar.
Pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI pada Senin juga melemah ke level Rp17.666 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.
BI Prediksi Menguat Mulai Juli
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan mulai menguat pada Juli 2026 seiring meredanya permintaan valuta asing (valas) musiman yang meningkat pada periode April hingga Juni.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kebutuhan dolar AS meningkat secara musiman akibat pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, dan kebutuhan ibadah haji.
“Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat,” kata Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI.
Perry memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500 per dolar AS.
Saat ini, rerata kurs rupiah secara year to date (ytd) masih berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS. Namun, BI optimistis penguatan rupiah pada Juli dan Agustus dapat menurunkan rerata tahunan kembali ke rentang target APBN.
Selain faktor domestik, Perry menyebut tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi global yang memburuk sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada Februari lalu. Meningkatnya risiko geopolitik global tercermin dari kenaikan credit default swap (CDS), lonjakan harga minyak dunia, dan tingginya inflasi di AS yang membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan yield US Treasury dan memperkuat dolar AS, sehingga memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari sisi arus modal, Perry mengungkapkan pasar saham mencatat outflow Rp26,06 triliun pada Januari-Maret 2026, sedangkan pasar SBN mengalami outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.
Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari sebelum berbalik outflow pada Maret akibat meningkatnya tensi geopolitik global.
Untuk menjaga daya tarik aliran modal masuk, BI meningkatkan suku bunga SRBI sehingga instrumen tersebut kembali mencatat inflow sebesar Rp48,26 triliun pada April dan Rp27,05 triliun pada Mei. Dengan demikian, total inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp75,31 triliun, sedangkan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan mencapai Rp105,16 triliun.
Perry juga menyebut pembelian SBN oleh investor asing mulai meningkat, sementara aliran dana asing di pasar saham mulai mencatat inflow pada awal Mei meski secara ytd masih mengalami outflow. Menurutnya, masuknya modal asing membantu memperkuat pasokan valas domestik di tengah tingginya permintaan dolar AS akibat faktor global dan musiman.
“Alhamdulillah Rp67,3 triliun itu inflow, sehingga menambah pasokan valas. Memang masih kurang karena demand-nya sedang tinggi dan faktor global, sehingga kami intervensi. Insya Allah nanti Juli-Agustus demand-nya sudah mulai agak menurun, sehingga intervensi tidak terlalu besar,” ucap Perry.