Pekerja menyiram tanaman bawang merah di lahan perkebunan riset benih sayuran PT East West Seed Indonesia (Ewindo) di Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (2/8). Menurut produsen benih Ewindo, kebutuhan benih hortikultura di Indonesia meningkat pada 2016 yang diperkirakan mencapai 12 ribu ton per tahun karena semakin tingginya permintaan konsumen pada komoditas sayuran dan buah buahan. (Foto: Antara/Risky Andrianto/aww/16)
YOGYAKARTA, (ERAKINI) - Bisnis benihhortikultura di Indonesia memiliki prospek menjanjikan untuk terus dikembangkan sebagai peluang usaha pada sektor pertanian. Hal itu dikemukakan oleh Universitas Gadjah Mada () Yogyakarta Profesor Aziz Purwantoro.
"Di bidang pertanian, industri perbenihan ini yang paling menopang. Satu kilo benih saja bisa dijual hingga ratusan ribu rupiah," kata Aziz Purwantoro dalam keterangannya di Yogyakarta, Jumat (22/9/2023).
Industri benih hortikultura di Indonesia, menurutnya, semakin tumbuh dan berkembang dengan banyaknya jenis varietas baru untuk tanaman sayuran dan buah-buahan yang dirilis ke publik.
"Selama 13 tahun saya menjadi anggota penilai, lebih dari seratus produsen benih yang tumbuh dan telah merilis 400 hingga 500 varietas baru untuk tanaman hortikultura dan sekitar 60-70 persen lebih banyak sayuran," ujar Aziz yang juga anggota Tim Penilai dan Pendaftaran Varietas Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian.
Sebagian besar produsen penghasil benih ini, menurut Aziz, didominasi pelaku usaha UMKM yang umumnya pemiliknya adalah orang yang telah lama berkecimpung di perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian.
"Mereka mau berkecimpung dalam bidang pertanian karena industri benih ini tidak membutuhkan modal besar. Mereka umumnya jebolan dari perusahaan, paling tidak tahu soal pemasarannya," kata dia.
Adapun varietas baru yang dirilis oleh produsen benih rata-rata didominasi jenis tanaman sayuran, seperti cabai, terong, bawang merah, serta melon dan semangka untuk tanaman buah.
Menurut Aziz, untuk melepas jenis varietas baru, tanaman hortikultura memerlukan waktu pemuliaan tanaman sekitar 3 sampai 4 tahun.
"Kadang 2 tahun saja bisa karena sayuran itu sekitar 3 sampai 4 bulan sudah panen. Umumnya varietas baru ini memiliki keunggulan dari sisi produksi lebih tinggi atau lebih tahan terhadap hama," katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Inovasi Agroindustri (PIAT) UGM sekaligus pakar pemuliaan tanaman dari Fakultas Pertanian UGM Prof. Taryono menambahkan bahwa setiap varietas baru yang dirilis ke publik hendaknya memberi nilai tambah bagi produk pertanian dan memiliki keunggulan dari tanaman sejenis di pasaran.
"Harus ada sesuatu yang berbeda dari sisi keunggulannya agar kita memiliki kekayaan sumber daya genetik," katanya. (ant)