Situs yang menyediakan informasi mengenai keselamatan penerbangan dan investigasi kecelakaan pesawat, 1001crash.com, mencatat 107 kejadian kecelakaanpesawat Boeing sejak tahun 2000.
Terbaru adalah kejadian pada 12 Juni 2025 saat Boeing 787-800 Maskapai Air India yang mengangkut 242 orang, jatuh beberapa detik setelah lepas landas dari Ahmedabad, India. Kecelakaan ini menewaskan 241 orang. Ini adalah kecelakaan pertama Boeing 787.
Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada 29 Desember 2024, Boeing 737-8AS Maskapai Jeju Air mengalami kecelakaan di Bandara Muan, Korea Selatan. Pesawat yang membawa 175 penumpang dan 6 awak tergelincir lalu menabrak antena lokalizer ILS. Pesawat seketika hancur berkeping-keping dan terbakar hingga menyebabkan 179 orang tewas. Hanya dua pramugari selamat yang duduk di bagian ekor pesawat.
Beberapa kejadian lain di tahun 2024 yakni kecelakaan Pesawat Kargo DHL Boeing 737-476SF pada 25 November di Vilnius, Lituania; kecelakaan Pesawat Transair Senegal Boeing 737-38J pada 9 Mei di Dakar, Senegal; kecelakaan Pesawat Kargo Serve Air Boeing 737--3YOF pada 5 Mei di Kinshasa, Kongo; dan kecelakaan Pesawat Safe Air Company Boeing 727-2Q9 pada 31 Maret di Sudan.
Pada 5 Januari 2024, juga terjadi kecelakaan pesawat Alaska Airlines. Penutup pintu darurat bagian tengah (mid-exit door/MED) terlepas dari sisi kiri pesawat Boeing 737-9 yang membawa 171 penumpang dan kru. Beruntung para pilot dan awak kabin berhasil membawa pesawat beserta seluruh penumpang kembali mendarat dengan selamat.
Berkaca dari kejadian ini, Boeing menyatakan terus bekerja sama sepenuhnya dengan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) dan Administrasi Penerbangan Federal (FAA). Boeing mengambil tindakan segera pada untuk memastikan keselamatan armada dan operasi produksi seluruh pesawatnya.
Boein menyebut rencana keselamatan dan kualitas pesawat secara umum berfokus pada empat area utama, yakni meningkatkan pelatihan bagi tenaga kerja, menyederhanakan proses dan perencanaan, menghapus cacat produksi, serta menanamkan budaya keselamatan dan kualitas di setiap level organisasi. Boeing juga menetapkan sistem pemantauan dan evaluasi berkelanjutan untuk menjaga kesehatan seluruh rantai produksi.
"Kami berkomitmen penuh terhadap rencana ini dan terhadap perbaikan terus-menerus, karena kami percaya, inilah cara terbaik untuk memastikan bahwa penerbangan komersial tetap menjadi moda transportasi paling aman di dunia," tulis Boing dikutip dari laman resminya, Rabu (23/7/2025).
Mengutip The Seattle Times, meski Boeing telah beberapa kali menguraikan rencana tersebut sejak kecelakaan, termasuk setelah insiden Alaska Airlines pada Januari 2024, sebagian regulator, legislator, dan karyawan tetap meragukan apakah akan ada perubahan jangka panjang yang nyata di perusahaan ini.
Survei internal terbaru menunjukkan bahwa karyawan Boeing tidak mempercayai pimpinan senior dan merasa kontribusi mereka tidak dihargai atau diakui. Di lantai pabrik, beberapa pekerja khawatir perusahaan lebih mengutamakan kecepatan produksi daripada keselamatan.
"Namun, Boeing menunjukkan kemajuan dalam sejumlah inisiatif jangka panjang yang dicanangkan sejak dua kecelakaan fatal pada 2018 dan 2019," kata Don Ruhmann, yang menjabat sebagai Chief Safety Officer (Pejabat Keselamatan Utama) Boeing sejak Maret.
Ruhmann menggantikan Mike Delaney, orang pertama yang menduduki posisi tersebut sejak dibentuk oleh Boeing. Dalam setahun terakhir, Boeing merekrut Chief Engineer bidang Faktor Manusia dan menunjuk eksekutif baru untuk memimpin tim yang bertugas mengaudit keselamatan dan kualitas di dalam perusahaan.
Mereka juga menambahkan laboratorium baru bernama Safety and Airworthiness Focused Engineering atau SAFE, untuk membantu karyawan yang menyusun dokumen dalam proses sertifikasi komponen pesawat.
Sejak insiden panel lepas pada Januari 2024, Boeing juga meningkatkan fokus pada penggunaan alat pelacak, penyederhanaan instruksi kerja, dan pengurangan praktik “traveled work”, yaitu pekerjaan yang belum selesai tetapi dilanjutkan di luar urutan produksi normal. Hal ini bisa mengganggu proses lain di pesawat dan menciptakan risiko keselamatan tambahan.
Ruhmann optimistis bahwa rencana keselamatan Boeing berjalan sesuai harapan perusahaan. "Investasi yang dilakukan telah menempatkan perusahaan pada posisi yang sangat baik untuk menghasilkan hasil yang berbeda dalam hal keselamatan,” ujarnya.
Namun, dalam setahun sejak insiden panel Alaska Airlines, Boeing mencatat peningkatan 220% laporan yang masuk melalui Speak Up, sebuah alat internal perusahaan bagi karyawan untuk menyampaikan kekhawatiran dan masukan terkait keselamatan.
Ruhmann mengakui lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh insiden Alaska Airlines pada 5 Januari 2024. Namun, dalam empat bulan pertama tahun ini saja, jumlah laporan masih sekitar tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2023.