Danantara Siapkan Rp130 Triliun untuk AS Konsekuensi Negosiasi Tarif? Ini Kata Rosan
Thomas Pulungan







“Kita evaluasi semua peluang investasi. Tapi fokus utama tetap di Indonesia. Skemanya 80 persen di dalam negeri, 20 persen di luar,” ujar CEO Danantara Rosan Roeslani usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/7/2025), dikutip dari Antara.
Rencana investasi Danantara sebesar Rp130 triliun di AS itu disebut-sebut sebagai bagian dari kesepakatan negosiasi tarif impor antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.
Rosan yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan bahwa peluang investasi luar negeri tetap terbuka, termasuk ke AS dan negara-negara lainnya. Namun ia menegaskan bahwa aspek strategis seperti transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja menjadi pertimbangan utama.
Rosan memastikan bahwa semua keputusan investasi diambil secara hati-hati dan mengutamakan kepentingan nasional jangka panjang.
“Yang penting bagi kami adalah bagaimana investasi itu ada transfer teknologinya dan juga ada penciptaan lapangan pekerjaannya, memberikan imbal hasil sesuai benchmark di atas biaya modal kami,” katanya.
Diketahui, Presiden AS Donald Trump akhirnya menurunkan tarif impor bagi Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan negosiasi. Namun ada konsekuensi dari hasil negosiasi tarif menjadi 19 persen itu.
Indonesia harus membeli berbagai produk dari Negeri Paman Sam. Indonesia sepakat membeli energi AS senilai USD15 miliar (Rp244 triliun), produk pertanian USD4,5 miliar (Rp73,1 triliun), serta 50 unit pesawat Boeing.
Tarif Terendah di ASEAN
Penurunan tarif resiprokal memang sebuah keberhasilan Indonesia meski ada konsekuensinya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tarif impor yang dikenakan AS pada Indonesia merupakan terendah di antara negara kawasan ASEAN, serta sejumlah negara pesaing komoditas ekspor.
Tarif impor AS terhadap produk dari Vietnam dan Filipina mencapai 20 persen, Malaysia dan Brunei 25 persen, Kamboja dan Thailand 36 persen, serta Myanmar dan Laos 40 persen.
Tarif Indonesia juga lebih kompetitif dibandingkan negara-negara pesaing utama dalam ekspor tekstil dan produk tekstil, seperti Bangladesh (35 persen), Sri Lanka (30 persen), Pakistan (29 persen), dan India (27 persen).
Dengan perjanjian ini, kata dia, baik Indonesia maupun AS diharapkan mendapat manfaat strategis, memperluas pasar, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.



