Fenomena Rojali Berkah buat Usaha Makanan dan Minuman di Mal
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Fenomena pengunjung mal yang hanya datang ramai-ramai tapi jarang belanja alias rojali (rombongan jarang beli), ternyata membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha makanan dan minuman (F&B).
Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mencatat, omzet sektor F&B justru naik 5–10 persen berkat tren ini.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, melihat bahwa di tengah pergeseran gaya belanja masyarakat ke ranah daring, sektor F&B justru tetap ramai karena orang datang ke mal untuk nongkrong.
“Kalau sudah duduk, pasti pesan makanan atau minuman. Masa iya duduk doang enggak beli?” kata Budihardjo dalam acara Hari Retail Modern Indonesia di Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Sementara Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan, Septo Soepriyatno, menyebut bahwa fenomena rojali ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak masa pandemi COVID-19.
Menurutnya, setelah lama terbiasa di rumah, masyarakat kini mencari pengalaman sosial dan interaksi langsung di luar. Mal pun berubah fungsi, bukan hanya sebagai tempat belanja tapi juga sebagai ruang hiburan, rekreasi, dan tempat kumpul-kumpul.
“Contohnya Plaza Semanggi yang sekarang jadi Plaza Nusantara. Konsepnya sudah berubah total. Mereka hadirkan ruang-ruang untuk interaksi sosial, dan itu memang dibutuhkan masyarakat sekarang,” jelas Septo.

















