Harga minyak dunia melonjak dan pasar saham global melemah imbas pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang meragukan keberlangsungan gencatan senjata dalam perang dengan Iran. Foto: Ilustrasi/Ist
Dilansir AP, Kamis (9/7/2026), Indeks S&P 500 sempat melemah hingga 1,1 persen setelah Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata telah "berakhir". Namun, indeks mampu memangkas kerugian menjadi 0,3 persen setelah Trump menyebut bentrokan terbaru tidak berarti perang skala penuh akan kembali terjadi.
Pernyataan Trump yang berubah-ubah tersebut menambah ketidakpastian mengenai arah konflik yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 576 poin atau 1,1 persen. Sebaliknya, Nasdaq Composite berbalik menguat 0,2 persen setelah sempat berada di zona negatif.
Kenaikan paling signifikan terjadi di pasar energi. Harga minyak mentah Brent melonjak 5,2 persen menjadi 78,02 dolar AS per barel dan sempat menembus level 80 dolar AS per barel.
Meski demikian, harga tersebut masih jauh di bawah puncak saat awal konflik berlangsung, ketika kontrak minyak yang paling aktif diperdagangkan mendekati 120 dolar AS per barel. Lonjakan terbaru kembali memicu kekhawatiran karena sebelumnya harga minyak telah turun ke level sebelum perang.
Investor khawatir konflik yang berlarut-larut dapat mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi rute penting pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Gangguan pasokan berpotensi memperburuk inflasi yang sebelumnya diperkirakan mereda seiring penurunan harga energi.
Kondisi tersebut juga dapat mendorong Federal Reserve (The Fed) dan bank sentral lainnya mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Kebijakan suku bunga tinggi memang membantu menekan inflasi, tetapi berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan pasar investasi.
Di Wall Street, saham-saham sektor perumahan menjadi salah satu kelompok yang paling tertekan. Investor khawatir kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS akan mendorong kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sehingga melemahkan permintaan di sektor tersebut.
Saham Builders FirstSource turun 5,4 persen, PulteGroup melemah 5,4 persen, dan D.R. Horton terkoreksi 4,6 persen. Perusahaan dengan konsumsi bahan bakar besar juga mengalami tekanan. Saham American Airlines turun 4 persen, sedangkan operator kapal pesiar Carnival melemah 3,9 persen.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai menguat setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi serta keraguan terhadap kemampuan AI menghasilkan keuntungan sebanding dengan investasi besar pada chip dan pusat data.
Saham-saham AI memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan pasar karena banyak di antaranya memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar. Saham Nvidia naik 3,7 persen dan menjadi pendorong utama S&P 500 karena merupakan salah satu perusahaan dengan nilai pasar terbesar di Wall Street.
Saham Broadcom juga menguat 4,8 persen setelah Apple mengumumkan kerja sama jangka panjang untuk merancang dan memproduksi komponen khusus bagi produk-produknya, dengan nilai kesepakatan diperkirakan mencapai lebih dari 30 miliar dolar AS.
Pada penutupan perdagangan, S&P 500 turun 21,14 poin atau menjadi 7.482,71. Dow Jones Industrial Average melemah 576,76 poin ke level 52.348,39, sedangkan Nasdaq Composite naik 51,96 poin menjadi 25.870,65.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sempat mendekati 4,60 persen sebelum turun ke 4,57 persen. Angka tersebut meningkat dari 4,55 persen pada penutupan Selasa dan masih jauh di atas level 3,97 persen sebelum konflik dengan Iran dimulai.
Pergerakan serupa terjadi di pasar saham Eropa. Indeks DAX Jerman turun 2,2 persen dan CAC 40 Prancis melemah 2,2 persen setelah pernyataan Trump mengenai berakhirnya gencatan senjata.
Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan anjlok 5,3 persen di tengah volatilitas tinggi saham-saham teknologi AI yang mendominasi pasar negara tersebut.
Berbeda dengan mayoritas pasar Asia, indeks Hang Seng Hong Kong justru naik 3 persen. Saham perusahaan rintisan AI asal China, Zhipu atau Z.ai, yang diperdagangkan dengan nama Knowledge Atlas Technology, melonjak 13,4 persen.
Kenaikan tersebut terjadi menjelang berakhirnya periode penguncian saham (lock-up period) selama enam bulan bagi investor utama setelah perusahaan tersebut mencatatkan sahamnya di Bursa Hong Kong pada Januari.
China National Radio melaporkan hampir 70 persen investor utama Zhipu berkomitmen mempertahankan kepemilikannya meski sebelumnya muncul kekhawatiran berakhirnya masa penguncian dapat memicu aksi jual. Sejak debut di bursa, harga saham Zhipu telah melonjak lebih dari 1.300 persen.