Ledakan Kembali Guncang Selat Hormuz, Iran Ancam Balasan Keras usai Serangan AS
Akhmad Baihaqi Arsyad
TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangkaian ledakan mengguncang wilayah sekitar Selat Hormuz pada Selasa (7/7/2026). Pemerintah Iran langsung melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan menegaskan siap mengambil langkah tegas untuk menjaga kepentingan nasionalnya.
Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di beberapa titik strategis di kawasan pesisir selatan negara tersebut. Menurut laporan penyiaran resmi Iran, enam ledakan terdengar di Pulau Qeshm, sementara tujuh ledakan lainnya dilaporkan terjadi di Kota Sirik. Suara ledakan juga terdengar di Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran yang memiliki peran vital dalam lalu lintas perdagangan dan energi kawasan.
Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah sejumlah pejabat Amerika Serikat mengumumkan adanya operasi serangan besar yang ditujukan terhadap Iran, sehingga memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Teluk.
Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang menuduh Washington kembali melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati untuk meredakan konflik dan mengakhiri perang di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Teheran juga menyinggung berbagai perkembangan keamanan regional, termasuk konflik yang masih berlangsung di Lebanon serta berbagai ancaman yang dinilai terus mengganggu stabilitas kawasan.
“Iran memberikan peringatan serius terhadap konsekuensi dari pelanggaran perjanjian oleh Amerika Serikat dan akan mengambil tindakan tegas guna melindungi kepentingan serta keamanan nasionalnya,” demikian isi pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui media pemerintah Iran.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat juga dilaporkan mencabut kebijakan pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Iran. Langkah tersebut diumumkan setelah terjadinya serangan terhadap tiga kapal tanker di kawasan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau United Kingdom Maritime Trade Operations menyebut sebuah kapal tanker mengalami kebakaran setelah dihantam proyektil yang belum diketahui jenis maupun asalnya. Dalam insiden yang sama, dua kapal lainnya turut menjadi sasaran serangan, dengan setidaknya satu di antaranya dilaporkan diserang menggunakan pesawat tanpa awak atau drone.
Ketiga insiden tersebut terjadi di perairan dekat Oman, negara yang sebelumnya mengusulkan pembentukan koridor transit sementara di sepanjang garis pantainya guna menjamin kelancaran lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Namun, gagasan tersebut mendapat penolakan dari Iran yang selama ini berupaya mempertahankan pengaruhnya terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, termasuk terkait kebijakan biaya lintas bagi kapal-kapal yang melewati jalur strategis tersebut.
Meningkatnya aktivitas militer, serangan terhadap kapal tanker, serta saling tuding antara Washington dan Teheran kini kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling rawan di dunia. Para pengamat menilai setiap eskalasi baru di kawasan itu berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional sekaligus mengguncang pasar energi global mengingat besarnya volume ekspor minyak yang melintasi jalur tersebut setiap hari.
















