Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kemenag, Mastuki, saat membuka soft launching Expo Kemandirian Pesantren, di Trans Studio Mall Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/10/2024). Foto: Erakini/Thomas Pulungan
BANDUNG, (ERAKINI) - Kementerian Agama (Kemenag) optimistis bisnis-bisnis pesantren di Indonesia bakal menjadi kekuatan baru ekonomi Indonesia. Hal ini melihat progres Program Kemandirian Pesantren yang dicanangkan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas sejak 2021 lalu.
"Saya yakin dan optimistis, tidak perlu lama lagi pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, akan menjadi potensi yang aktual bagi penguatan ekonomi. Bukan hanya bagi ekonomi pesantren, tapi juga ekonomi Indonesia, " ujar Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kemenag, Mastuki, saat membuka soft launching Expo Kemandirian Pesantren, di Trans Studio Mall Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/10/2024).
Mastuki menjelaskan, Kemandirian Pesantren merupakan program besar yang dicanangkan Kemenag sejak 2021 melalui bantuan inkubasi bisnis pesantren. Sebab pesantren di Indonesia dengan keberagaman dan keunikannya adalah potensi yang luar biasa.
"Karena begitu besar potensi yang ada, maka pesantren adalah ikon dari ekosistem yang terbangun di Indonesia. Bukan hanya terkait dengan pendidikan yang merupakan core bisnisnya, tetapi ikoniknya pesantren ini tampil mewujud menjadi satu kekuatan ekonomi," bebernya.
Program Kemandirian Pesantren, lanjut Mastuki, berbasis pada penguatan ekonomi, sehingga setiap pesantren diharapkan mampu mandiri, sebagaimana diinginkan Menag Gus Yaqut saat meluncurkan program ini pada tahun 2021.
Jika program ini dijalankan secara konsisten, Mastuki yakin dalam lima tahun ke depan akan muncul kekuatan-kekuatan bisnis pesantren. "Dan, ini tentu butuh effort dari kita semua, peserta yang hadir di sini (expo)," katanya.
Mastuki menilai kehadiran 51 booth pesantren di Trans Studio Mall Bandung menjadi peluang untuk memperluas jejaring dan pasar. Apalagi, lokasi expo ini merupakan mal bergengsi di sentrum ekonomi.
"Mal ini adalah sentrum ekonomi. Mal bergengsi di Jawa Barat. Silakan saling kompetisi di jalannya. Kita (pesantren) harus menunjukkan bahwa ada perbedaaan yang dijalankan melalui bisnis pesantren," ucapnya.
"Orang pasti melihat pesantren itu basisnya pada Islamic values, nilai-nilai Islam, fiqih yang kuat. Tapi ini yang juga harus ditumbuhkan, yang akan membedakan, karena justru menjadi keunikan dari pesantren. Keunikan inilah yang biasanya manjadi kekuatan. Dimana-mana, kalau sama sudah biasa," lanjutnya.
Maka itu, ia mengajak peserta expo menciptakan keunikan pesantren, baik dari brandnya, produknya, hingga segmen pasarnya.
"Mari jangan bicara sendiri-sendiri, ini eranya kolaborasi, kerja sama untuk sama-sama maju apa yang menjadi kekuatan pesantren. Dengan expo ini kita tunjukkan pesantren memiliki kekuatan yang berbeda dan diperhitungkan," pungkasnya.
Tim Ahli Kemandirian Pesantren selaku Ketua Pelaksana Expo, Darma Rika Swaramarinda, mengatakan, kegiatan ini diikuti total 55 booth, dimana 51 booth merupakan produk bisnis pesantren.
Kata dia, expo ini bukan sekadar seremoni, tetapi ajang silaturahmi bagi para penerima bantuan inkubasi bisnis pesantren Kemeng untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman. Expo ini juga jadi ajang untuk menunjukkan hasil usaha pesantren kepada khalayak luas.
"Melalui expo ini harapannya bisa memperkuat jejaring, ada kesempatan menunjukkan bahwa produk-produk pesantren tidak hanya dipasarkan kepada masyarakat sekitar pesantren, tetapi sudah lebih luas. Ini kesempatan menunjukkan produk-produk dan inovasi pesantren kepada khalayak luas agar lebih dikenal lagi," pungkasnya.