Ilustrasi - Periode Januari-Agustus 2024, impor beras Indonesia tembus 3,05 juta ton, melonjak hingga 91,85 persen. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) – Periode Januari-Agustus 2024, impor bahan pangan Indonesia naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu, termasuk beras yang saat ini mengalami lonjakan tajam.
Pada periode tersebut impor berasRI tercatat mencapai 3,05 juta ton atau melonjak hingga 91,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama yaitu 1,59 juta ton. Secara nilai, impor tersebut mencapai US$ 1,91 miliar atau naik 121,34% dari sebelumnya US$ 863,62 juta.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (17/9/2024) mengatakan bahwa RI paling banyak impor beras dari Thailand.
“Impor beras pada periode Januari-Agustus 2024 ini paling banyak berasal dari Thailand yaitu seberat 1,13 juta ton dengan nilai US$ 734,78 juta,” katanya.
Kemudian disusul dari Vietnam yaitu seberat 0,87 juta ton senilai US$ 542,86 juta, selanjutnya dari Pakistan seberat 0,46 juta ton dengan nilai US$ 290,56 juta.
Selain beras, impor bahan pangan lainnya juga naik selama Januari-Agustus 2024 dibanding periode yang sama pada tahun lalu, di antaranya gandum dan meslin serta gula.
Menurutnya, sepanjang Januari-Agustus 2024 impor gandum dan meslin, gula telah menyumbang 5,07%, terhadap total impor non migas Indonesia.
Ia merinci, untuk gandum dan meslin di periode tersebut mencapai 8,43 juta ton, atau naik 25,35% dari sebelumnya 6,73 juta ton. Adapun secara nilai naik 3,84% menjadi senilai US$ 2,56 miliar dari periode sebelumnya, yaitu sebesar US$ 2,46 miliar.
Rinciannya, lanjut dia, impor komoditas gandum dan meslin dari Australia sebesar 2,27 juta ton atau senilai US$ 707,39 juta pada periode Januari-Agustus 2024. Disusul dari Kanada 1,82 juta ton atau senilai US$ 639,71 juta, dan kemudian Argentina 1,32 juta ton dengan nilai US$ 373,56 juta.
Sementara untuk gula, jumlah impor pada periode Januari-Agustus 2024 yaitu seberat 3,38 juta ton atau turun sekitar 2,58% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya seberat 3,46 juta ton. Namun, dari sisi nilai impor gula mengalami kenaikan 5,53% dari US$ 1,89 miliar menjadi US$ 1,99 miliar.
Impor gula tersebut mayoritas berasal dari Brazil dengan berat 1,96 juta ton atau senilai US$ 1,15 miliar. Kemudian dari Thailand seberat 0,89 juta ton dengan nilai US$ 533,78 juta. Selanjutnya dari Australia 0,42 juta ton dengan nilai US$ 241,31 juta.
"Jadi Januari hingga Agustus 2024 terhadap Januari-Agustus 2023, gandum dan meslin ini naik 3,84%, kemudian gula naik 5,53%, dan sementara untuk beras naik 121,34%," jelasnya.