Menko Perekonomian Airlangga menyampaikan opening speech pada Seminar Nasional bertemakan Giant Sea Wall, di Jakarta, Rabu (10/1/2024). Foto: ekon.go.id
JAKARTA, (ERAKINI) - Pemerintah mendorong percepatan pembangunan Tanggul Pantai dan Tanggul Laut atau Giant Sea Wall (GSW) di kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura). Proyek besar ini penting untuk melindungi perekonomian dan keberlangsungan hidup 50 juta penduduk .
Menteri Koordinator (Menko) Bidang PerekonomianAirlangga Hartarto mengatakan, Pulau Jawa masih harus menghadapi sejumlah tantangan daya dukung dan daya tampung. Seperti ancaman erosi, abrasi, banjir rob, penurunan permukaan tanah (land subsidence) di sepanjang daerah pesisir Pantura Jawa yang terpantau bervariasi antara 1-25 cm per tahun. Serta kenaikan permukaan air laut sebesar 1-15 cm per tahun di beberapa lokasi.
Beragam ancaman yang mengintai kawasan Pantura Jawa itu tentu akan memengaruhi keberlangsungan aktivitas ekonomi dan meningkatkan potensi bencana bagi jutaan penduduk yang berdiam di daerah tersebut.
“Studi JICA, pertumbuhan di kawasan Pantura 20% dari GDP Indonesia dengan kegiatan industri, perikanan, transportasi, dan pariwisata. Jumlah penduduk di Pantura itu 50 juta, jadi yang terdampak 50 juta orang. Tentu tidak hanya membahayakan kelangsungan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga kelangsungan hidup masyarakat,” ungkap Airlangga dalam Seminar Nasional bertemakan Strategi Perlindungan Kawasan Pulau Jawa, melalui Pembangunan Tanggul Pantai Dan Tanggul Laut (Giant Sea Wall), di Jakarta, Rabu (10/1/2024).
Ia menjelaskan, mengacu pada capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2023, secara spasial seluruh wilayah Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang positif dan mampu menunjukkan resiliensi.
Pulau Jawa menjadi salah satu kontributor terbesar dalam PDB Nasional dengan share mencapai sebesar 57,12%. Angka tersebut sekaligus memperlihatkan Pulau Jawa sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi secara spasial.
Menurut Airlangga, jika fenomena degradasi di Pantura Jawa tidak tertangani, diperkirakan akan mengancam keberadaan dari 70 kawasan industri, 5 kawasan ekonomi khusus, 28 kawasan peruntukan industri, 5 wilayah pusat pertumbuhan industri, serta berbagai infrastruktur logistik nasional, seperti bandara, jalur kereta api, hingga pelabuhan.
“Dengan seminar ini mudah-mudahan bisa di kick-off supaya ini skalanya bisa kita perbesar dan lebih masif lagi dan ini program yang sifatnya transformatif,” pungkas Airlangga.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyampaikan, pembangunan Giant Sea Wall dapat menjadi jawaban atas fenomena kenaikan permukaan laut, hilangnya tanah, dan sekaligus juga menjadi jawaban atas kualitas hidup sebagian rakyat Indonesia yang masih mengenaskan.
Prabowo berterima kasih atas seluruh kajian pembangunan Giant Sea Wall yang terus berlanjut serta menyampaikan telah menugaskan Universitas Pertahanan untuk melakukan kajian lebih lanjut atas berbagai hal yang bisa dilakukan terkait dengan gagasan besar pembangunan Giant Sea Wall.
“Saya ingin ini menjadi pembicaraan, topik diskusi kalangan akademisi, kalangan pengusaha, kalangan teknokrat, engineers-engineers Indonesia, mengajak melakukan pendalaman terhadap masalah ini,” tegas Prabowo.
Hanya, menurut Prabowo mega proyek Tanggul Pantai dan Tanggul Laut kemungkinan dapat terwujud 30-40 tahun ke depan. Sebab anggaran yang dibutuhkan sangat besar.
“Tadi lihat untuk fase pertama saja itu Rp164 triliun. Mungkin semuanya nanti yang saya dengar, semuanya itu akan memakan USD50-60 miliar atau mungkin lebih,” pungkas Prabowo.