Profesor Mari Elka Pangestu saat dilantik sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral dalam Kabinet Merah Putih Pemerintahan Prabowo-Gibran, pada Selasa (22/10) lalu. Foto: Setpres
Mari Elka merupakan bungsu dari tiga bersaudara anak ekonom ternama Indonesia Prof Jusuf Pang Lay Kim atau J Pang Lay Kim atau J Panglaykim atau Jusuf Pangestu. J Panglaykim dikenal luas sebagai ahli marketing, moneter, dan manajemen.
Sepanjang hidupnya, J Panglaykim banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Ia juga aktif di Center for Strategic and International Studies (CSIS) sebagai anggota Dewan Direktur. Mengikuti jejak sang ayah, Mari Elka tumbuh sukses sebagai ekonom. Ia juga menjadi anggota Dewan Direksi di CSIS.
Dirangkum dari berbagai sumber, Kamis (24/10/2024), Mari Elka merupakan Guru Besar Universitas Indonesia (UI) yang mengajar pada Departemen Ilmu Ekonomi. Mari Elka merupakan keturunan Tionghoa yang memiliki kakek buyut Njo King Yam.
Njo King meninggal dan dimakamkan di Desa Gubug, Grobogan, Jawa Tengah. Bahkan, kakek buyut Mari dari pihak ibu, Njo Eng Kho, merupakan generasi kedua yang tiba di Jawa Tengah dan menghidupi keluarganya dengan berdagang beras dan hasil bumi lain, serta batik.
Boleh dibilang, Mari memang lahir dari garis keturunan pedagang. Kerja keras dan membangun jejaring yang baik menjadi budaya yang diterapkan leluhurnya ketika mulai membangun bisnis. Nilai dan bakat inilah yang dimiliki Mari sehingga memiliki jaringan luas hingga dunia internasional.
Mari yang lahir di Jakarta pada 23 Oktober 1956 meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Nasional Australia, dan meraih gelar Doktor dalam bidang yang sama dari University of California, Davis.
Sepanjang kariernya, Mari telah menjabat dalam beberapa posisi penting di dunia akademik dan pemerintahan. Keahliannya dan dedikasinya dalam mendorong pembangunan ekonomi dan kerja sama internasional membawanya untuk menjabat sebagai Managing Director of Development Policy and Partnerships di Bank Dunia selama tiga tahun hingga pada tahun 2021-2023.
Di pemerintahan, Mari Elka pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari tahun 2004 hingga 2011. Ia kemudian pindah tempat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dari tahun 2011 hingga Oktober 2014. Mari tercatat sebagai menteri pertama dari keturunan Tionghoa.
Sebelum masuk kabinet SBY, Mari Elka sudah bekerja di berbagai bidang perdagangan internasional, sektor keuangan, ekonomi makro, dan reformasi kebijakan di UI dan Pusat Kajian Strategis dan Internasional, serta menjadi konsultan bagi banyak organisasi internasional.
Ia pernah menjadi Dewan Kerjasama Ekonomi Pasifik (PECC), Forum Ekonomi Dunia Davos, termasuk di berbagai Dewan Agenda Global, Forum China Boao untuk Asia, Panel Ekonom Asia, dan banyak forum kepemimpinan internasional lainnya.
Dia juga menjabat di berbagai dewan perusahaan, seperti Astra International. Dia dianugerahi Bintang Mahaputra, penghargaan tertinggi untuk pelayanan publik dari pemerintah Indonesia pada tahun 2013 dan penghargaan “prestasi seumur hidup untuk perempuan dan kepemimpinan pemerintah” selama World Chinese Enterprise Forum di Chongqing China
Dia juga Profesor George Ball dalam urusan internasional, di Universitas Columbia pada tahun 2015. Mari pernah bertugas di Dewan Pimpinan UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN), Dewan Penasihat Internasional McLarty Associates, panel dari WHO PBB dan inisiatif kesehatan penyelenggara lainnya.
Kemudian, Equal Access Initiative yang diketuai oleh Pascal Lamy, anggota Women International Council on Women’s Business Leadership yang diketuai oleh Hillary Clinton, serta anggota Komite Penasihat Ilmiah, International Institute of Applied System Analysis, Austria.
Dengan pengalaman luas di dunia internasional, tak salah jika Prabowo mempercayakan tugas Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral kepada Mari Elka.