Perjalanan hidup Robert Budi Hartono dimulai dari bisnis rokok keluarga yang nyaris bangkrut hingga akhirnya menjadi salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) -Robert Budi Hartono kini menjadi satu-satunya Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) PT Bank Central Asia Tbk (BCA) setelah sang kakak, Bambang Hartono, meninggal dunia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencatat perubahan pengendalian tersebut melalui Surat Nomor SR 21/PB.333/2026 tertanggal 29 Juli 2026.
Perubahan status pengendali ini berakar dari penyesuaian kepemilikan di PT Dwimuria Investama Andalan, induk usaha yang memegang 54,94 persen saham . Sebelumnya, Bambang Hartono tercatat sebagai pemegang saham pengendali di perusahaan induk tersebut bersama Robert.
"Dengan perubahan di tingkat perusahaan induk tersebut, Robert resmi menjadi Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) BCA secara tunggal," ujar Corporate Secretary BCA, Rudy Budiardjo, dalam keterangannya dikutip Senin (3/8/2026).
Robert Budi Hartono dan saudaranya, Michael Bambang Hartono, termasuk orang terkaya di Indonesia. Sebagian besar kekayaan mereka berasal dari investasi di BCA.
Keluarga Hartono membeli saham BCA setelah keluarga Salim dan pihak lainnya kehilangan kendali atas bank tersebut saat krisis ekonomi 1997–1998.
Keluarga Hartono pertama kali meraih kesuksesan melalui bisnis tembakau dan hingga kini masih menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia.
Menurut Forbes, pada IPO terbesar kedua di Indonesia pada 2022, kedua bersaudara tersebut mencatatkan Global Digital Niaga, induk perusahaan raksasa e-commerce Blibli, dan berhasil menghimpun dana sebesar USD 510 juta.
Aset keluarga Hartono juga mencakup sejumlah properti utama di Jakarta serta merek elektronik Polytron. Perusahaan tersebut memasuki bisnis kendaraan listrik di Indonesia pada 2025 dengan meluncurkan dua model mobil listrik.
Perjalanan Hidup Robert Budi Hartono
Perjalanan hidup Robert Budi Hartono dimulai dari bisnis rokok keluarga yang nyaris bangkrut hingga akhirnya menjadi salah satu konglomerat terbesar di Indonesia.
Setelah menghadapi musibah kebakaran pabrik dan berbagai tantangan lainnya, Robert bersama saudaranya berhasil membangkitkan PT Djarum dan memperluas bisnis ke berbagai sektor, seperti perbankan, properti, elektronik, dan teknologi. Kini, Djarum Group menjadi salah satu kelompok usaha terbesar di Indonesia dengan berbagai investasi serta kontribusi di bidang olahraga dan sosial.
Robert Budi Hartono lahir pada 26 April 1940 di Semarang, Jawa Tengah. Robert memiliki nama Tionghoa, Oei Hwi Tjong. Ia merupakan putra Oei Wie Gwan, pendiri PT Djarum.
Robert memiliki saudara kandung, Michael Bambang Hartono atau Oei Hwi Siang. Ia menikah dengan Widowati Hartono atau Giok Hartono dan dikaruniai tiga anak, yakni Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono.
Sebagai seorang pengusaha, Robert dikenal luas berkat kiprahnya di berbagai sektor usaha. Kesuksesannya diraih melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Bangkit dari Musibah Kebakaran
Perjalanan PT Djarum bermula ketika Oei Wie Gwan membeli sebuah usaha rokok kretek kecil bernama Djarum Gramophon.
Oei Wie Gwan kemudian memasarkan rokok kretek dengan merek "Djarum" hingga dikenal luas dan diminati masyarakat. Namun, pada 1963, pabrik Djarum mengalami kebakaran hebat yang mengakibatkan kerugian besar. Kondisi usaha yang terus memburuk diperparah dengan meninggalnya Oei Wie Gwan tidak lama kemudian.
Sepeninggal sang ayah, Robert bersama Michael mewarisi pabrik Djarum yang hampir bangkrut. Keduanya kemudian bahu-membahu dan bekerja keras membangkitkan perusahaan yang mati suri melalui modernisasi peralatan dan mesin produksi.
Setelah melakukan pembaruan, PT Djarum mulai bangkit. Pada 1972, perusahaan mulai mengekspor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian, PT Djarum meluncurkan Djarum Filter, merek rokok pertama yang diproduksi menggunakan mesin. Selanjutnya, Djarum Super diperkenalkan kepada pasar pada 1981.
Berkat kerja sama dan kepiawaian kedua bersaudara dalam berbisnis, PT Djarum berkembang menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Produk-produknya juga berhasil menembus pasar internasional, termasuk Amerika Serikat.
Di dalam negeri, produksi Djarum mencapai sekitar 48 miliar batang rokok per tahun atau setara dengan sekitar 20 persen dari total produksi rokok nasional.
Seiring meningkatnya keuntungan, PT Djarum berkembang menjadi Djarum Group. Hartono bersaudara kemudian melebarkan sayap bisnis ke berbagai sektor, seperti agribisnis, properti, elektronik, multimedia, teknologi digital, serta perbankan melalui BCA yang kini menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia.