Aida Suwandi Budiman menjadi pilihan Presiden Prabowo Subianto sebagai calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan Destry Damayanti. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) — Aida Suwandi Budiman menjadi pilihan Presiden Prabowo Subianto sebagai calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan Destry Damayanti.
Sosok ekonom senior yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade di bank sentral itu memiliki rekam jejak panjang dalam perumusan kebijakan moneter, hubungan internasional, dan penguatan stabilitas makroekonomi Indonesia.
Nama calon tunggal Deputi Gubernur Senior BI ini diungkap Ketua DPR RI Puan Maharani, Rabu (12/8/2026). Usulan nama tersebut disampaikan Presiden Prabowo melalui Menteri Sekretaris Negara kepada pimpinan DPR.
"Kemarin Pak Mensesneg sudah mengirimkan surat kepada pimpinan DPR dari Presiden yang disampaikan oleh Mensesneg kepada pimpinan DPR," kata Puan di kompleks parlemen.
Penunjukan Aida sebagai Deputi Gubernur Senior BI dinilai tepat menggantikan posisi Destry yang kini menjadi calon tunggal Gubernur BI. Aida memiliki pengalaman panjang yang membentang dari ruang operasi pasar uang, meja analisis nilai tukar, hingga forum-forum kebijakan moneter global di International Monetary Fund (IMF).
Aida S Budiman saat ini menjabat Deputi Gubernur BI. Sebelum menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, Aida menjabat sebagai Asisten Gubernur membawahi Kebijakan Strategis Sektor Moneter, Bauran Kebijakan Bank Indonesia, dan sinergi dengan bauran kebijakan nasional periode 2020-2022.
Jabatan tersebut diemban setelah menjadi Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter periode 2018 dan juga Kepala Departemen Internasional periode 2014-2018.
Aida resmi menjadi Deputi Gubernur BI berdasarkan Keputusan Presiden RI No 147/P Tahun 2021 tertanggal 24 Desember 2021, dan mengucapkan sumpah jabatan pada 6 Januari 2022 dengan masa jabatan sampai 2027
Dirangkum Erakini, Aida lahir di Bogor pada 18 April 1965. Karier Aida di Bank Indonesia dimulai pada 1991 sebagai staf di bidang riset ekonomi dan statistik. Sejak awal, ia terlibat dalam analisis inflasi dan proyeksi perekonomian nasional. Pengalaman itu menjadi fondasi bagi perjalanan kariernya yang kemudian bergerak ke berbagai fungsi strategis bank sentral.
Ia pernah menjadi dealer pasar rupiah pada periode 1996–2001, mengelola operasi pasar uang yang menjadi salah satu instrumen penting dalam transmisi kebijakan moneter. Setelah itu, Aida beralih ke bidang riset ekonomi dan kebijakan moneter, dengan fokus pada sektor eksternal Indonesia, arus modal, dan kebijakan nilai tukar rupiah.
Perjalanan karier Aida tersebut memperlihatkan kombinasi pengalaman teknis dan analitis yang relatif lengkap, mulai dari operasi moneter hingga perumusan kebijakan makro.
Salah satu fase penting dalam karier Aida adalah ketika menjabat sebagai Wakil Direktur Eksekutif IMF untuk South-East Asia Voting Group (SEAVG) pada 2010–2013. Dalam posisi itu, ia mewakili kepentingan 13 negara anggota, terutama dalam isu pengelolaan arus modal, stabilitas moneter global, dan penanganan krisis ekonomi.
Pengalaman di IMF memberi Aida perspektif yang lebih luas mengenai dinamika keuangan internasional dan hubungan antara kebijakan domestik dengan perkembangan ekonomi global. Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika Indonesia semakin terintegrasi dengan pasar keuangan internasional.
Sekembalinya dari IMF, Aida menempati sejumlah posisi strategis di Bank Indonesia. Ia memimpin Departemen Internasional dan kemudian Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter.
Sebagai Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Aida terlibat dalam perumusan bauran kebijakan BI, yakni koordinasi antara kebijakan moneter, kebijakan makroprudensial, stabilisasi nilai tukar, dan sinergi dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pada 2020, ia menjabat sebagai Asisten Gubernur BI. Dalam posisi tersebut, Aida mendukung Dewan Gubernur dalam mengoordinasikan kebijakan strategis sektor moneter dan internasional, termasuk pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan kebijakan moneter BI.
Aida juga pernah menjabat sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada sisa masa jabatan tahun 2020-2025. Ia dilantik pada 11 September 2024.
Kombinasi Akademik dan Pengalaman Kebijakan
Di luar pengalaman birokrasi moneter, Aida memiliki latar belakang akademik yang kuat. Aida merupakan alumni Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah menempuh pendidikan di bidang Sosial-Ekonomi Pertanian Agribisnis pada tahun 1987, Aida melanjutkan pendidikan di University of Southern California dan mendapatkan gelar Master di bidang Economics pada tahun 1996. Aida kemudian meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) bidang Ekonomi dari Claremont Graduate University, Amerika Serikat, pada tahun 2001.
Kombinasi pendidikan ekonomi internasional dan pengalaman kebijakan moneter menjadikan Aida sebagai salah satu ekonom internal BI yang memiliki pemahaman mendalam mengenai interaksi antara stabilitas harga, nilai tukar, arus modal, dan reformasi struktural.